Menghancurkan ‘Rumah’ Lain untuk Membangun Rumah Baru
Menghancurkan ‘Rumah’ Lain untuk Membangun Rumah Baru

Tak lama warga sudah mengerumuni kami. Seorang kakek tua berteriak ketika melihat akar pohon yang sudah tercabut.

“Astaghfirullah Al Adzim!! Kalian mencabut pohon ini dari sini?!” teriak kakek itu.

Kami semua keheranan. Bingung dengan apa yang terjadi.

“Saya sudah bilang kepada Bu Joko berkali-kali! Jangan potong pohon tanpa izin dari yang punya! Sekarang makan tumbal kan?!” ujar kakek itu. Sementara warga yang berkerumun kini mulai kusak-kusuk.

“Kalian! Kalian sudah izin belum tadi?! Sudah didoakan belum pohonnya ini?!” kata kakek itu dengan marah.

Kami menggelengkan kepala. Tampak menyesal dengan perbuatan kami.

“Pohon ini jauh lebih tua dari kalian! Kalian kok seenaknya saja mencabutnya tanpa menghormati alam dan yang menghuninya!” omelan kakek itu terus berlanjut. Sementara aku masih berupaya menghentikan pendarahan rekanku itu.

Baca juga:

 

Tak lama ambulans datang ke lokasi kami. Orang-orang yang berkerumun memberi jalan. Tim medis segera mengevakuasi rekan kami. Orang-orang masih berkerumun di sekeliling rumah. Kakek itu sempat menghilang dan kemudian kembali lagi dengan sesaji di tangannya.

“Ayo! Kamu semua ke sini! Ayo! Para warga juga ke sini! Kita semua berdoa di sini memohon maaf karena membiarkan ini terjadi!” ajak kakek itu. Entah mengapa kami menurut begitu saja.

Kami semua berdoa di depan rumah itu. Mendoakan keselamatan kami sendiri dari amarah penghuni asli rumah ini. Memohon maaf karena telah melukai perasaannya dan tak menghormati keberadaannya.

Sejak kejadian itu, aku menarik timku dari pekerjaan yang benar-benar tanggung. Kami merasa bersalah. Bu Joko memohon-mohon kepada kami untuk menyeleaikan rumahnya. Entah apa yang ada di pikirannya. Bahkan ia pun tak menggubris ketika kuminta dirinya berdoa di sana. AKu pun menyarankan kepadanya untuk menanam pohon dan melestarikan tanaman yang ada di sekelilingnya, bukan menebangnya.

Rekanku itu pulih beberapa lama kemudian. Aku menuntut biaya perawatan pada Bu Joko yang tak bertanggungjawab karena melibatkan kami dalam proyek berbahaya tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.

Pada akhirnya dari sini aku belajar untuk menghargai bentuk kehidupan lain. Juga untuk memastikan bahwa tempat tinggal yang dibangun harus seijin yang bahureksa.

Baca juga:

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

sixteen + twelve =