Beranda Cerpen Pria yang Meninggal pada Tahun 1976

Pria yang Meninggal pada Tahun 1976

0
BERBAGI
Pria yang Meninggal pada Tahun 1976 (part 1)
Pria yang Meninggal pada Tahun 1976 (part 1)

Ayah kawanku adalah salah seorang veteran, pejuang pemertahan kemerdekaan Indonesia. Tahun ini pada akhirnya ia meninggal. Sungguh, ia memperoleh usia yang cukup panjang untuk melihat bagaimana hasil jerih payahnya pada bangsa dan negara ini. Entah apa yang ia pikirkan ketika meninggal kepada pewaris bangsa ini. Apakah ia bangga, atau kecewa, dan justru menyesal telah menyerahkan kemerdekaan pada bangsa yang rupanya belum begitu siap merdeka ini.

Tentu saja ini hanyalah pendapat pribadiku. Sebuah pendapat yang dengan kurang ajar melintas begitu saja-di saat seharusnya aku turut berduka cita-, perlahan semakin kuat terdengar seiring dengan semakin dalamnya peti mati ayah kawanku masuk kembali ke asalnya. Orang mengatakan itu tempat peristirahatan terakhir, tapi aku lebih menganggapnya sebagai rumah. Dari situ kita berasal, dan di situ pula kita akan kembali. Tak akan ada yang menolakmu, protes, atau bahkan mengusirmu secara terang-terangan karena tidak cocok perkara sepele. Apapun yang kamu perbuat semasa hidup, bumi ini akan menerimamu dalam damai.

Hanya saja manusia kreatif kerap ‘membumbui’ kematian manusia yang seharusnya wajar-wajar saja, jadi seolah-olah luar biasa baik atau luar biasa buruk.

 

Baca juga:

 

Tanpa kusadari, seorang anak kecil tengah berjongkok di dekat kakiku. Mengelus-elus sebuah batu yang sudah dibentuk sedemikian rupa sehingga membuatnya begitu terheran-heran.

“Ini apa ya?” begitu polosnya anak itu bertanya masih sambil dengan mengelus-elus batu itu.

Aku membungkuk. Mengatur jarak sedemikian dekat. Cukup dekat dengan telinganya. Lalu aku berbisik, “Itu nisan, nak!”
Anak itu kini menatapku. Terheran-heran. “Untuk apa orang mati membutuhkan nisan?”

Anak-anak memang terlahir sebagai ilmuwan. Mereka selalu menanyakan apa yang membuat rasa penasaran mereka tergelitik. Berusaha mencari jawabannya, sekalipun perkara itu tampaknya sepele. Awalnya aku bingung harus menjawab apa. Tapi dengan naluriku sebagai ibu tiga orang anak, tentu aku sudah cukup berpengalaman menyikapi pertanyaan-pertanyaan jenius semacam ini.

“Orang mati membutuhkan nisan, agar kita yang masih di dunia dapat mengenangnya.” aku masih meraba-raba jawabanku sendiri. Sudah tepat, ataukah belum. Merasa tidak yakin dengan jawabanku sendiri, aku memberi keterangan lanjutan. “Maksud ibu, terkadang, kita lupa bahwa ini makam siapa. Apakah ia sudah berjasa bagi bangsa, ataukah, ia seorang ayah yang baik, atau seorang anak yang bersikap manis seperti dirimu. Mungkin sebenarnya bukan mereka yang membutuhkan nisan. Tapi.. kita sendiri lah yang membutuhkan nisan itu karena segala keterbatasan kita, dengan mudah melupakan mereka yang pernah hidup.”

Anak itu termangu. Menatapku, lalu kembali menatap batu nisan yang ada di dekatnya. Baru saja beberapa saat ia menaruh perhatian lebih pada nisan itu, sepasang tangan sudah memindahkannya ke sudut lain. Tanda bahwa kubur telah ditutup. Nisan sudah siap ditanamkan.

“Apakah kakekku orang baik?” tanya anak itu.

“Tentu saja. Kakekmu mengorbankan banyak hal bagi bangsa dan negaranya. Begitu pula dengan semua orang yang disemayamkan di sini. Mereka memiliki kisah heroiknya masing-masing.”  jawabku lembut.

Setelah prosesi pemakaman berakhir, kawan-kawanku mengajak berfoto bersama. Seperti taman makam pahlawan pada umumnya, makam ini terlalu indah untuk disebut sebagai makam. Kawan-kawanku (dan termasuk aku) sebenarnya sudah tak tahan dari tadi untuk berfoto bersama. Kami sengaja menunggu semua pelayat pulang, termasuk keluarga yang tengah berduka. Antara tak tahu diri dan tak peduli dengan semuanya, kami langsung berkumpul di titik yang cukup indah untuk berfoto bersama.

Ibu-ibu tetaplah ibu-ibu. Rasanya berswafoto dengan satu smartphone saja tidak cukup. Setiap smartphone diisi oleh pose kami yang berbeda-beda. Kira-kira tiga puluh menit kami berfoto bersama dengan berbagai macam pose. Sungguh geng ibu-ibu tak tahu diri, berfoto ria di pemakaman para pahlawan.

Sesampainya aku di rumah, teman-teman satu grup sudah mulai membagikan hasil foto. Grup chat menjadi heboh tatkala beberapa foto tampak begitu konyol. Lalu beberapa anggota lain mulai menyeletuk, menagih foto yang diambil menggunakan smartphoneku. Jelas, aku pun tak sabar membagikannya kepada kawan-kawanku.

Tapi …

Ketika kulihat media penyimpanan. Bukan foto-foto kami yang muncul.

Kullihat fotoku berdiri sendiri. Tengah tersenyum. Tanpa kawan-kawanku.

Kugeser lagi foto lainnya, benar-benar hanya aku sendiri yang berdiri. Dan lagi, aku baru menyadari bahwa warna hasil foto itu bukanlah warna biasanya. Seperti warna foto zaman dahulu, ketika tahun 1970-an.

Kupastikan grup chat-ku. Tak ada yang aneh. Kawan-kawanku benar-benar hidup dan mereka bukanlah hantu. Tapi, apa yang kulihat di foto itu benar-benar tampak mengkhawatirkan.

Kugeser lagi foto-foto itu perlahan-lahan. Angle pengambilan gambarnya perlahan semakin tertuju pada satu titik. Sebuah titik yang menunjukkan sebuah batu.

Itu adalah batu nisan yang polos, tak memiliki tambahan bintang di atasnya, selayaknya nisan-nisan di situ pada umumnya. Di tengah nisan itu tertulis:

 

Pahlawan Tak Dikenal

Gugur pada 21.10.1976

 

Kugeser lagi foto itu. Aku semakin penasaran. Bukannya foto close up lagi yang kulihat, melainkan foto dua orang pria yang tengah berpose di belakangku dengan senyum sumirngah. Mereka berdua tampak begitu akrab.

Meskipun samar, aku begitu yakin…

Pria satunya adalah ayah kawanku itu . . .

 

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here