Beranda Mini Novel Cinta yang Membutuhkan Izin dari Seseorang

Cinta yang Membutuhkan Izin dari Seseorang

0
BERBAGI
Aku dan Pahlawan Kecilnya - part 2
Aku dan Pahlawan Kecilnya - part 2

“Nggak usah kaget, mas! Namanya juga jatuh cinta. Orang jatuh cinta itu bisa ngapain aja!” lanjutnya sambil menata botol minuman ke kulkas.

“Kok kamu bisa tahu?” tanyaku keheranan.

Kini pramuniaga itu gantian menatapku keheranan.

“Ya tahu lah! Siapa yang nggak apal orang aneh yang datang 2 minggu berturut-turut cuma buat beli Kiyanti!” ujar pramuniaga itu sewot.

Sebelumnya dalam Gadis Minimarket yang Mampu Memperlambat Waktuku

Aku yang menggenggam Kiyanti saat itu cuma menatap dalam botol Kiyanti yang dingin. “Ini enak mbak!” jawabku.

“Bodo amat! Mas ya, kalau pingin sama mbak Ruri harus siap mental! Harus siap dapat izin! Banyak cowok yang lebih ganteng dari masnya, gagal ndeketin mbak Ruri gara-gara nggak dapet izin!” lanjut pramuniaga itu.

“Izin? Dari bapaknya?” tanyaku mulai takut. Aku takut ketemu calon bapak mertua. Ya, aku kepedean, tapi tetap saja takut.

“Bukan.” jawabnya.

“Ya dari siapa no?” tanyaku kesal.

“Ya tanya aja sendiri sama orangnya! Tuh di belakang masnya!” sahut pramuniaga itu.

Aku berbalik badan. Langsung melonjak terkejut. Ruri berdiri di belakangku, lalu tersenyum manis.

“Kamu ngomong apaan sih, Tan! Permisi ya mas!” ucap Ruri lalu melewatiku dan kemudian menarik pramuniaga berjulukan ‘Tan’ itu. Majam Tan kali ya?

“Lha ini masnya lho suka kamu! Mbok ya diajak ngomong itu lho!” ujar Tan lagi. Aku dan Riri bertatapan dengan mata yang terbelalak.

 

Baca juga:

 

“Intan!” Oh.. Intan namanya.. kukira Majam Tan. “Maaf ya mas! Intan kalau ngomong suka aneh!” Ruri tampak salah tingkah, sementara aku membeku di depan kulkas. Iya karena kulkasnya terbuka dan dingin sekali.

Wangi Ruri begitu harum. Suaranya yang lembut dan lucu ketika mengomel kepada Intan membuatku teringat lagi akan pertemuan pertama kami.

Ruri kini menarik Intan ke depan. Sementara Kiyanti yang ada di genggamanku mulai tidak dingin lagi. Lantas aku menggantinya dengan yang dingin di dalam kulkas. Setelah itu aku pergi keluar.

“Lho mas! Bayar dulu!” teriak Intan.

“Oh iya..” aku lalu menuju kasir.

Entah kenapa sore itu aku memilih duduk-duduk di depan Indomerit sambil menikmati sebotol Kiyanti. Kuamati dari kaca, Ruri yang bekerja. Aku sedikit kasihan, mengapa gadis secantik Ruri, harus bekerja keras menjadi seorang pramuniaga. Atau.. aku harus bersyukur karena profesinya, justru aku bisa bertemu dengan Ruri?

Mataku teralihkan ketika mendengar suara segerombolan anak dari  mobil.

“Da daaaaa, Ton!” lalu mobil itu pergi meninggalkan anak berjulukan ‘Ton’ di pinggir jalan. Mobil itu tampaknya mobil antar jemput. Ton masih mengenakan seragam putih-biru khas taman kanak-kanak. Sementara ‘Ton’ melambaikan tangannya, mobil terus melaju hingga jauh. ‘Ton’ kini berlari menuju ke Indomaret.

“Ma maaaaaaaa!” teriak ‘Ton’.

“Eh sudah pulang, nak?” sahut sebuah suara ketika pintu Indomerit terbuka.

Suara lembut itu, suara Ruri.

 

MAMAA?!

 

Bersambung ke

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here