Menghancurkan ‘Rumah’ Lain untuk Membangun Rumah Baru
Menghancurkan ‘Rumah’ Lain untuk Membangun Rumah Baru

Akhirnya hari itu kuputuskan untuk mencari tim. Aneh juga. Beberapa kawan yang biasa bekerja denganku tiba-tiba melotot ketika kutunjukkan proyek rumah di Harjobinangun.

“Woy! Aku habis kerja di situ! Kamu mau bikin aku sial ya?!” teriak salah seorang kawanku kemudian berlarti terpontang-panting. Ada apa ini?

“Mas! Kok mbok terimo kerjoan iki?! Ojo rono!” ujar salah seorang kawanku di tempat yang lain. Tapi ia tak menjelaskan mengapa aku tak boleh menerima ini.

Baca juga:

 

Akhirnya aku hanya mendapatkan sekitar tujuh orang untuk menyelesaikan rumah tanggung itu. Menurut prediksiku, seharusnya rumah itu selesai dalam waktu satu bulan.

Aku masih kepikiran, ada apa dengan kawan-kawanku tadi? Mereka selalu senang bekerja denganku karena aku selalu menuntut harga yang setimpal untuk kerja keras kami kepada pengguna jasa. Tapi kali ini, mereka tampak benar-benar ketakutan.

Esoknya aku tiba di lokasi. Sebuah proyek rumah yang telah dua bulan ini ditinggalkan karena alasan tak jelas. Ibu itu sudah menungguku di depan rumahnya, kemudian menjelaskan padaku apa saja yang harus kami benahi. Di akhir penjelasan, ia membawaku ke halaman depan rumah yang sedari tadi luput kuperhatikan.

“Mas.. t-t-tolong, itu juga dibereskan ya?” pinta ibu itu sambil menunjuk sebuah sisa pangkal batang pohon yang masih menancap di tanah. Tampaknya pohon itu cukup besar dan tua. Tapi kenapa harus ditebang?

“Ah, kami harus mencabutnya agar bisa dipasang pagar ya bu?” tanyaku. Ibu itu hanya mengangguk.

“Tapi kenapa ditebang bu? Kan jauh lebih asri kalau ada  pohon di halaman. Cucu ibu bisa bermain-main di bawah sana tanpa takut kepanasan kelak.” ujarku.

Ibu itu kini melotot padaku, tampak tak terima dengan pernyataanku. “POKOKNYA MAS NGGAK USAH BANYAK KOMEN! KERJAKAN SAJA!” ucapnya. Aku tak menyangka bahwa ia akan semarah ini. Ada apa sebenarnya?

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

sixteen − three =