Menghancurkan ‘Rumah’ Lain untuk Membangun Rumah Baru
Menghancurkan ‘Rumah’ Lain untuk Membangun Rumah Baru

Ibu itu meninggalkanku sendiri setelah kami bercakap-cakap mengenai hal lain yang harus timku kerjakan nantinya. Aku kembali masuk ke dalam untuk memeriksa berapa jumlah kebutuhan bahan bangunan yang harus disediakan. Ketika aku naik ke lantai dua, tampak masih ada beberapa sisa bahan bangunan yang sepertinya masih biisa digunakan.

Aku berjalan ke sekeliling.

Srek! Srek! Srek!

Aku berhenti. Kemudian aku berjalan lagi.

Srek! Srek! Srek!

Aku terhenti. Aku baru menyadari bahwa suara langkah diseret itu bukanlah gema dari suara langkahku. Suara itu pun berhenti ketika aku berhenti. Aku berbalik, mencari sumber suara itu.

Tak ada apapun.

Mungkin itu memang hanya gema dari lantai 2 yang masih belum selesai.

Selang setengah jam kemudian timku datang. Aku segera menjelaskan apa saja yang harus diselesaikan. Maka kami semua pergi ke pos masing-masing untuk bekerja.

Baca juga:

 

Tak ada yang aneh selama dua minggu kami bekerja di sini. Aku masih bertanya-tanya, apa kiranya yang membuat kawan-kawanku itu ketakutan sampai lari pontang-panting?

Aku sedikit bangga dengan hasil kerja timku. Kami bekerja dengan sangat cepat. Rumah ini akan selesai kurang dari target yang ditentukan. Tentu saja harga yang dibayar memang mahal untuk mendapatkan jasa secepat dan seberkualitas ini. Yang membuat kami dapat bekerja cepat sebenarnya karena aku ingat hasil kerja kawan-kawanku itu yang membangun rumah ini sebelumku. Jadi aku tinggal meneruskan apa yang biasanya kami lakukan sewaktu bekerja sama.

Tapi siang itu semua yang sedang istirahat makan siang di bawah dikejutkan oleh satu hal aneh. Ada seekor burung dara yang tiba-tiba menabrak tembok rumah dan kemudian jatuh mati karena lehernya patah. Burung dara seharusnya menjadi salah satu penerbang yang baik? Kenapa burung itu seolah-olah dilemparkan ke tembok dengan sengaja?

Tiga hari kemudian, salah satu rekanku berteriak terkejut ketika ia masuk ke ruang keluarga yang akan ia cat. Kami semua berlari ke arahnya. Ia sudah terduduk dengan muka pucat pasi karena melihat sesuatu tertulis di temboknya.

NGALIHA! IKI OMAHKU!

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

eleven − 8 =