Menghancurkan ‘Rumah’ Lain untuk Membangun Rumah Baru
Menghancurkan ‘Rumah’ Lain untuk Membangun Rumah Baru

“Ini karena kita tak segera membangun pagar. Akhirnya ada anak-anak iseng yang masuk dan berlaku vandal. Hari ini kita cabut akar pohon dan bangun pagar!” ujarku.

Akhirnya kami semua menuju halaman depan rumah. Menyiapkan semua peralatan untuk mencabut sisa akar dan membangun pagar.

Baca juga:

 

Akar pohon ini sangatlah kuat. Kayunya begitu berkualitas. Tak heran mereka menyisakan ini dan tak segera mencabutnya. Kami cukup kewalahan melepaskannya dari tanah. Di saat kami akan berhasil melepas akar pohon ini tiba-tiba terdengar suara keras dari dalam rumah.

GWAAAARRRRRRGGGGHHHHHHHHH!

Kami semua langsung berhenti kerja. Menatap satu sama lain.

“Kalian mendengarnya juga?” tanya salah seorang rekan. Kami mengangguk.

Kami semua berhenti. Lalu masuk ke dalam rumah. Di lantai bawah tak ada apapun. Kami berjalan ke lantai dua. Memeriksa satu per satu ruangan  yang kami garap. Tak ada apapun juga. Kami sudah sedang turun saat salah seorang rekan kembali masuk ke kamar yang paling ujung.

“Mas! Ayo turun!” teriakku. Sementara rekan lain sudah sampai lantai bawah.

“Sek mas! Aku kok kaya ndelok sesuatu.” kemudian ia masuk. Aku terdiam sesaat lalu memutuskan untuk mengikutinya. Belum sampai aku di ruangan yang paling ujung tiba-tiba,

“AAAARRRGGGH” PRANG!

Terdengar sebuah suara kaca jendela yang pecah berantakan. Aku bergegas lari ke ruangan itu. Kulihat dari sudut jendela kaca sudah pecah seukuran manusia dewasa. Dan ketika aku sampai di depan pintu… aku terkejut bukan main..

Sosok itu tingginya sama dengan ruangan itu. Badannya begitu besar, penuh dengan bulu lebat. Matanya merah menyala. Taring tampak mencuat dari mulutnya. Ia bernapas dengan berat.

Genderuwo itu Terusik karena Rumahnya Ditebang
Genderuwo itu Terusik karena Rumahnya Ditebang

UWIS TAK KANDANI! NGALIHA! IKI OMAHKU!

Suarannya begitu menggelegar di penjuru lantai dua. Ia berjalan ke arahku hendak menyerangku. Belum sampai cakarnya menyentuhku, sebuah tangan sudah menarik tubuhku menjauh dari ruangan itu. Salah seorang rekanku menyadari kejanggalan yang terjadi di lantai atas dan kembali hendak memeriksa kami.

Kami berlari ke bawah. Di depan, salah seorang rekanku sudah terjatuh di tanah berlumuran dengan darah dan terdapat bekas cakar di punggungnya.

“Ia masih hidup!” ujar yang lain.

“Kita tak bisa meninggalkannya sendiri di sini!” teriakku.

“Mas,  kamu doa sekarang! Aku akan panggil ambulans!” perintahku.

Ahirnya rekan-rekanku berbaris rapi di depan rumah. Mulai merapalkan doa-doa. Sementara aku meraih tasku untuk mengambil handphone dan memanggil ambulans. Beberapa warga tampak mulai mendatangi kami dari kejauhan. Sementara, sosok hitam itu yang semula masih tampak di ruangan terdepan di lantai dua kini perlahan menghilang.

Warga yang mendengar keramaian yang terjadi baru saja kini mulai sampai di depan rumah.

“INNA LILLAHI!” teriak seorang ibu ketika melihat kawanku yang tengah sekarat karena terjatuh dari lantai dua.

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

4 × 1 =