Siapkan Satu Kamar Kosong di Hotel
Siapkan Satu Kamar Kosong di Hotel

“Kalau anda ingin membangun hotel yang sukses, siapkan satu kamar kosong di lantai ketiga, kamar nomor 9.” ujar seorang konsultan kepadaku. Pakaiannya begitu rapi. Tapi sarannya yang barusan malah membuat dirinya lebih terdengar seperti dukun, dibandingkan seorang konsultan pembangunan hotel.

“Kenapa saya harus melakukan itu? Bukannya apa-apa, tapi saya tidak begitu percaya dengan hal-hal mistis. Maaf saja.” jawabku menolak saran yang bagiku tidak relevan di zaman ini.

Konsultan yang bekerja sama denganku sangatlah bagus. Hasil dari analisis datanya dan pengajuan persyaratan yang aku titipkan padanya juga selalu tembus dengan cepat dan mudah.

Memang bayarannya lebih mahal dibanding konsultan lain. Di sisi lain, namanya juga sudah cukup terkenal. Tapi mendengar saran yang baru saja ia lontarkan, rasa hormatku padanya menjadi berkurang.

Baca juga:

 

Konsultan itu kini tersenyum. Terdengar sedikit suara yang bermakna merendahkan. Berhubung kerja sama kami sudah hampir sampai di titik akhir, maka aku lebih memilih untuk mengabaikan tindakan merendahkannya itu.

“Terserah Anda. Yang penting saya sudah menyarankannya. Jangan salahkan saya apabila terjadi hal-hal aneh nantinya di hotel Anda.” jawabnya, lalu mengemas dokumen-dokumen yang tengah ia tangani. “Saya pamit dulu. Kira-kira, 3 bulan dari sekarang, pembangunan hotel sudah bisa dilaksanakan.” kemudian ia menawarkan tangannya untuk menjabat tanganku. Setelah itu berdiri, membenarkan kemejanya yang kusut akibat diduduki.

Aku ikut berdiri. Tak berkata apapun. Kini rasanya setiap gerakan konsultanku tampak mencurigakan. Ia kemudian mendekatiku, lalu tetap membisikkan hal yang tak ingin kudengar, “Sebaiknya anda tetap melaksanakan saran saya. Saya sedikit memaksa.”

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

2 × five =