Teori Detak Jantung: Hari Ketujuh dan Keputusan Nod
Teori Detak Jantung: Hari Ketujuh dan Keputusan Nod

Nod terduduk di tempat tidurnya. Sudah seharian ia berpikir keras mengenai apa yang akan mereka hadapi besok. Siapa yang harus hidup, siapa yang harus mati. Jika mereka tak dapat bernegosiasi dengan Tuhan, mereka tetap harus memutuskan siapa yang harus mati.

Baca juga:

 

“Nod, makan malamnya sudah siap!” ujar Ara menengok Nod yang sedari tadi di dalam kamar.

“Ra.. aku sudah memutuskan..” ucap Nod. Ara tahu keputusan apa yang baru saja dibuat oleh Nod.

“Kamu harus mati…” ungkap Nod sedih. Entah mengapa Ara pun tak terlalu terkejut mendengar Nod berkata demikian. Karena Ara tahu sakitnya hati Nod ketika mengucapkan kalimat barusan.

“Aku tidak benar-benar menginginkanmu mati Ra. Maafkan aku selama ini egois, ingin membunuhmu, lalu kemudian akhir-akhir ini aku terus mengatakan bahwa aku tak ingin berpisah darimu.

“Kamu tahu sendiri bahwa kita bisa saling merasakan. Dan aku tahu betul betapa kamu mencintaiku. Aku hanya tak dapat membayangkan…

“Saat di mana kamu tersiksa karena tak ada aku ketika kamu yang hidup. Kemana kamu harus pergi. Tak ada orangtua, tak ada keluarga untuk pulang. Kamu harus menderita karena telah membiarkanku mati dan meninggalkanmu. Kamu akan merasa sedih tiap hari..

“Aku tak ingin kamu tersiksa, Ra…” jelas Nod. Ara tersenyum mendengarkan ungkapan Nod. Ara kemudian melangkah mendekati Nod lalu memeluknya.

“Baiklah Nod. Terima kasih sudah memikirkanku.” dan Nod menangis dalam pelukan Ara.

Malam itu menjadi malam terakhir bagi Nod dan Ara. Maka saat itu menjadi saat-saat bagi mereka menghabiskan malam terakhir dalam balutan cinta. Mereka melakukan apa yang mereka mau terhadap diri mereka. Hasrat manusiawi untuk bertahan hidup memenuhi diri mereka. Mereka terus mengungkapkan hasrat manusiawi mereka sepuasnya karena cinta mereka pun tak terbatas oleh waktu yang singkat …

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

2 + 9 =