Beranda Mini Novel Penjual Nasi Goreng dari Karangkates

Penjual Nasi Goreng dari Karangkates

0
BERBAGI
Penjual Nasi Goreng dari Karangkates
Penjual Nasi Goreng dari Karangkates

Siapa yang tidak menyukai nasi goreng? Masakan sederhana khas Indonesia ini bahkan menduduki peringkat kedua sebagai masakan terenak di dunia setelah rendang. Penjual nasi goreng asli Indonesia memiliki caranya yang khas dalam menyampaikan sajian nikmat ini ke para pelanggannya.

Tidak melalui rumah makan mewah, juga tidak perlu mempromosikannya besar-besaran melalui iklan dengan anggaran bermilyar-milyaran. Para penjual nasi goreng cukup menawarkannya dengan sebuah gerobak yang diterangi oleh lampu petromax. Suara kompor gas yang membara dan sesekali suara spatula yang dipukul-pukulkan ke pinggir wajan menjadi pertanda sendiri bagi penggemar nasi goreng bahwa makanan kesukaan mereka telah berada di dekat mereka.

Baca juga

 

Setidaknya itu adalah cerita indah mengenai nasi goreng yang sudah tidak asing bagi sebagian besar warga Indonesia. Tapi, sisi lain dari nasi goreng dan penjualnya? Apa kalian sudah pernah mendengarnya? Bagaimana jika kita mencoba mendengarkan kisahku mengenai sisi gelap nasi goreng?

Kisah ini kualami semasa SMA dulu. Sebuah kisah yang mengubah pandanganku mengenai ‘kehidupan’ dalam bentuk lain, dan juga mengubah sudut pandangku mengenai pekerjaan sebagai penjual nasi goreng.

SMA-ku adalah SMA dengan basis pendiikan asrama khusus laki-laki. Benar. Jangan harap kamu akan melihat kisah romansa para lelaki di masa SMA, seperti perjuangan memperebutkan si cewek idola kelas, atau berlomba-lomba terlihat keren supaya populer di kalangan siswa perempuan. Jangan harap. Yang ada di sini hanyalah keseruan sebagai sesama pria dalam menghadapi getirnya melihat pria yang sama tiap hari. Setiap hari bertemu dengan teman-teman yang itu-itu saja. Tidak ada yang menarik dari sesama pria. Sakunya rata. Celana pun lurus ke bawah bagaikan batang pohon jati.

Tak pernah ada adegan di mana rambut terkibas dengan slow motion, lalu para siswa pria akan terpana begitu saja. Tak ada adegan geng-geng cewek yang berusaha saling mencelakai demi memperebutkan seorang cowok paling hits se-SMA.

Pada akhirnya, di sini kami belajar untuk terlihat keren dengan cara lain. Kami bersaing dengan belajar segiat-giatnya. Menggali potensi bakat kami alih-alih memikirkan masalah gebetan. Membangun semangat persaudaraan satu sama lain. Dan yang terpenting, pada akhirnya kami merasa memiliki keluarga, sekalipun tak jarang kami juga berselisih pendapat karena berada dalam ‘satu rumah’.

Salah satu kegiatan tahunan yang harus kami jalani pada tingkat dua adalah ‘gelandang rohani’. Ini adalah sebuah kegiatan yang biasa dilakukan untuk menemukan jati diri dan lebih mengenal karakter asli teman seasrama. Bagaimana bisa?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here