Penjual Nasi Goreng dari Karangkates
Penjual Nasi Goreng dari Karangkates

Dion sebagai kapten harus berada pada urutan kedua. Chandra, sebagai yang paling atletis dan mampu dengan lincah mengamati sesuatu yang janggal diletakkan sebagai pertahanan terdepan. Aris dan Bhaskoro., karena pengamatan mereka yang luas dan kegesitan mereka, mereka ditempatkan pada posisi keempat dan kelima. Sementara aku, yang terkenal cerdas dan mampu mengenali dan membaca arah dengan tepat, ditempatkan pada posisi ketiga. Posisi tengah yang paling terlindungi.

Jadilah kami berjalan sesuai formasi yang dibentuk oleh DIon. Kami terus berjalan sambil bersenda gurau. Sesekali kami membiarkan keheningan dan gelapnya malam menemani kami. Sungguh, kami seolah-olah berada di dunia yang tak pernah kami temui sebelumnya. Sebuah dunia yang amat hening. Dunia di mana banyak doa lebih didengarkan. Doa dari mereka yang tak dapat tertidur di waktu malam, karena gelisah dan nestapa. Saat-saat gelap ini adaah saat paling tepat untuk berdoa. Akhirnya kami memutuskan untuk bergantian mendaraskan doa agar tak begitu kelelahan dan ngantuk.

Baca juga:

 

Tak terasa, perjalanan kami bersama akhirnya mengantarkan kami hingga Karangkates. Sebuah bendungan besar yang apabila dilihat pada siang dan malam hari sama-sama tampak indah. Suara jangkrik terdengar keras di telinga kami. Sekalipun kami telah berjalan jauh dan menggunakan jaket serta membawa tas, rasanya hawa di sini tetaplah dingin menusuk. Membuat kami meggigil. Sering rasanya mata ingin terpejam, tapi karena berjalan kaki, jadi tak mungkin mata kami akan terpejam begitu saja. Yang ada malah kami bisa jatuh dan menyandung yang lain.

Sampai pada satu titik, kami melihat sebuah cahaya kuning kecil di sebuah tikungan menanjak. Perlahan kami mendekat, kami mendengarkan suara kompor gas dan nyala api lampu petromax. Lebih dekat lagi, kini jelas apa yang kami lihat adalah sebuah gerobak nasi goreng berwarna kuning dengan aksen hijau sebagai bingkainya. Kami berjalan melintasinya, hanya ada bangku kosong di sebelah gerobak itu. Bangku kosong itu menghadap ke sebuah jurang dengan pemandangan terindah. Aku sendiri melihat terdapat bahan-bahan yang siap dimasak di situ: nasi, ayam, sawi, mie untuk bahan mie dogdog.

Sempat terlintas bagiku untuk membeli barang seporsi saja, lalu memakannya sambil berisitahat sejanak. Tapi aku mengurungkan niat, mengingat bahwa betapa terbatasnya uang yang aku miliki. Ditambah lagi, kuamat-amati tak ada bapak penjual yang menunggu di balik gerobaknya. Hanya gerobak yang tengah menyala dengan sebuah bangku dari bekas batang kayu yang tumbang, tanpa penjual, pun tanpa pelanggan.

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

19 − eight =