Someone Who doesn't Want to be a Man
Someone Who doesn't Want to be a Man

“Sudah berapa lama nggak sadar?” tanya seorang kawan pada Rukma.

“Tiga hari ini.” Rukma terdiam. “Padahal, hasil analisa dokter bilang kalau Mas Dana nggak kenapa-kenapa.” Rukma menahan tangis.

“Bukannya besok Dana ulang tahun?” tanya kawan itu memastikan. Rukma mengangguk. Tiba-tiba suasana sedih itu terpecahkan oleh suara tertahan dari Dana. Dana kini membuka matanya. Tatapannya begitu kosong.

“Tolong panggilkan dokter!” teriak Rukma pada kawannya itu.

“Aku.. lihat.. bambu..” ucap Dana terbata-bata. Rukma mendekatinya. Tak lama kemudian dokter masuk.

“Sudah bangun pak? Ayo coba duduk dulu!” perintah dokter, namun Dana tak bereaksi.

“Karena hasil analisa tidak menunjukkan apa-apa, dan berhubung pak Dana sudah sadar setelah beberapa hari ini tidak makan, tolong bantu pak Dana supaya lekas makan.” Saran dokter setelah membaca semua tanda vital Dana.

Namun sepanjang malam Dana semakin menjadi-jadi. Tak ada sesuap nasi pun ditelannya. Hanya masuk begitu saja, sehingga Rukma terpaksa mengambilinya lagi dari mulut terbuka Dana agar tak menyangkut di kerongkongan.

Dini hari telah tiba. Dana mendadak kejang. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya. Sesekali ia berteriak tertahan. Mengejan hingga urat-urat di lehernya nampak begitu jelas. Begitu terus hingga akhirnya Rukma memegang kepala Dana. Kawannya menyaksikan itu, namun tak pernah mengira itu menjadi saat terakhir Dana, di tahun ke-empat puluhnya ini.

Rukma membungkuk. Membisikkan sesuatu ke tellinga Dana. Dan kemudian mata Dana terbelalak. Napasnya berhenti. Semua peralatan medis tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Rukma menyapukan tangannya dengan lembut di atas wajah Dana. Tertutuplah mata Dana, dan menangislah Rukma.

“Maafkan aku Mas Dana…”

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

15 − 14 =