Someone Who doesn't Want to be a Man
Someone Who doesn't Want to be a Man

“Anggi pulang! Mama!” teriak Anggi sepulang sekolah.

“Gimana hari pertamamu, anak ES-EM-A?” tanya Rukma antusias pada Anggi.

“Hmmm.. kan udah seminggu jadi anak SMA ma?” tanya Anggi bingung.

“Kan minggu lalu kalian Cuma OSPEK?” tanya Rukma meyakinkan.

“Iya juga ya? Papa pergi ya?” tanya Anggi.

“Iya. Lagi ketemu client di luar kota. Baru pulang 2 minggu lagi kayaknya.” Rukma berhenti sejenak. “Ang..”, “Ma..” dan Anggi pun berujar di saat yang sama.

Rukma diam dan kemudian mempersilahkan Anggi berbicara terlebih dahulu.

“Cincin papa ini.. rasanya aneh ma.” Keluh Anggi. Rukma kini mulai memperhatikan dengan seksama setiap perkataan anaknya. “Sejak aku pakai cincin ini, rasanya aku cepat capek. Terus kadang ada bayang-bayang, atau kenangan, yang Anggi nggak tahu sama sekali, Ma.”

“Memang kamu lihat apa?” tanya Rukma sambil memicingkan matanya.

“Seorang pria. Anggi nggak pernah kenal itu siapa. Tapi Anggi merasa kalau ada suara papa tiap kali kenangan pria itu muncul. Hend-.. hendri? Hendri kalau nggak salah namanya. Begitulah suara papa memanggil namanya.” Jelas Anggi.

Mendengar nama yang disebut putrinya, Rukma tahu bahwa Anggi tidak berbohong.

“Anggi, ayo kita ke toko perhiasan sekarang.” Ajak Rukma membuat Anggi jadi bingung.

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

11 + 16 =