Bayang-bayang di Balik Pintu
Bayang-bayang di Balik Pintu

Bayang-bayang di balik pintu terinspirasi dari sebuah kisah nyata yang didramatisir. Harap pembaca menyikapi cerita pendek ini dengan bijak. Selamat membaca! Tekan mainkan pemutar musik dari Soundcloud untuk mendukung suasana membaca! 😀

Tak ada yang lebih nikmat dibandingkan mandi seusai seharian penuh diterpa cuaca panas.

Heran sekali. Kenapa akhir-akhir ini cuaca tiba-tiba begitu panas? Padahal musim hujan. Aku kira ini anomali seperti biasanya: di saat siang begitu panas, maka malam akan terjadi badai besar.

Setidaknya beberapa saat yang lalu hujan. Tidak begitu deras. Tidak begitu lama pula. Saat aku sedang keluar belanja. Begitu senangnya hati ini kala melihat hujan turun lagi. Tapi.. ternyata hanya 10 menit, membuat diriku kembali berkeringat karena matahari kembali bersinar terang.

Air sudah sedari tadi mengucur dari pancuran. Menggantikan rasa rinduku pada hujan. Sungguh nikmat lah hujan buatan ini.

Tiba-tiba kulihat sekelebat bayangan orang dari balik pintu kamar mandiku. Pintu kamar mandiku memiliki satu bingkai kecil berlapiskan kaca mozaik-yang tentu saja-menyamarkan tubuhku yang sedang mandi. Jadi jika ada orang yang berlalu-lalang dekat kamar mandi aku akan tahu. Begitu pula orang dari luar akan tahu bahwa ada seseorang di dalam kamar mandi.

“Kenapa di saat aku mandi selalu saja ada orang lewat di depan pintu?’ batinku keheranan. Dan bayangan itu kembali lewat seusai menyelesaikan ‘urusannya’ di sisi lain, tempat jemuran yang tepat berada di sebelah kamar mandi.

“Mungkin honey sudah pulang? Atau mama? Ah sudah jelas honey! Mama kan lagi menginap di rumah kakak!” gumamku tak jelas sambil tetap menikmati air pancuran.

Bayangan itu kembali berkelebat di balik kaca. Aku memilih mengabaikannya. Mengambil sabun dan membersihkan tubuhku.

Masih sibuk dengan urusan ‘bersih-bersih’ bayangan itu masih tampak mondar-mandir. “Honey cari apa sih?! Bikin penasaran. Apa kuajak mandi sekalian ya?” pikirku lalu langsung membuka pintu kamar mandi.

“Hon, cari apa sih?” tanyaku rewel dan memanja, jaga-jaga jika ia langsung tergoda. Tapi.. bukan suamiku yang kulihat ada di balik pintu.

Seseorang mengenakan topeng hitam dan sedang memegang pisau. Kemudian dari balik topengnya tampak senyum yang begitu menyeramkan. Kulihat lagi rupaya ia tak sendiri.

Aku terkejut, namun karena sabun masih melapisi tubuhku aku terpeleset.

Semua gelap.

Itulah ingatan terakhirku.

Aku sedih. Kasihan suamiku.

Ternyata tak lama kemudian ia menyusulku. Senangnya hati ini…

Baca juga:

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

three × two =