Pemuda Ini Mengira Kawan-kawannya Masih Hidup, Tapi Ternyata

Kini giliran aku yang terdiam. Lalu mencari Lukman. Dia sudah agak jauh memandang ombak yang berdesir. Ah, mungkin memang aku yang lupa. Kenapa aku harus bingung? Lebih baik aku menikmati momen kebersamaan ini.

Teman-temanku seperti kembali ke masa kanak-kanak. Ada yang tidur-tiduran di pasir dan mengubur dirinya. Ada yang bermain dengan kepiting-kepiting kecil yang keluar dari lubang-lubang pasir. Ada yang main air. Ada yang masih sibuk dengan kameranya. Puas melihat keceriaan teman-temanku, aku duduk melihat mereka dari kejauhan. Tak kusadari Dodit sudah berlari ke arahku.

“Bro! Nggak nyangka banget ya gara-gara kamu tanya ada yang selo di grup kita akhirnya pada ngumpul gini!” ujarnya sambil menepuk bahuku.

Sekarang aku benar-benar bingung. Aku menatap Dodit dengan bingung. Dodit mengernyitkan dahinya karena tatapanku. “Kenapa bro?”

Aku tidak menjawab. Kubuka handphoneku. Kulihat lagi pesan-pesan di grup. Aneh. Pesan kemarin sudah tidak ada. Aku coba restart aplikasi itu. Nihil. Tidak ada pesan ajakan itu.

“Dit! Coba kamu lihat ini deh!” kataku sembari menyodorkan handphoneku.

Dodit sudah tidak ada.

Aku berdiri. Baru menyadari kejanggalan ini. Teman-temanku menghilang semua. Aku melihat sekeliling. Sepi. Hanya desiran ombak yang aku dengar. Sampai akhirnya, bunyi handphone berkali-kali menarik perhatianku.

Pesan dari grup.

“Hai bro.. lama nggak jumpa ya?”

“Udah lama ya sejak kejadian itu?”

“Iya..gara-gara itu kita jadi susah kumpul bareng”

“Eh ini kayaknya sudah ada satu orang yang kita tunggu nih. Lengkap deh”

“Iya iya .. lengkap sudah.”

“Kapan mau dijemput?”

Nara Pandhu
Nara Pandhu
Suka dengan hal-hal berbau misteri. Sudah menulis cerita misteri sejak tahun 2012.

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!