Beranda Mini Novel Berawal dari Keisengan Menggunakan WhatsApp, Kami Sekeluarga Terpaksa Dihantui karena Keusilan Adikku

Berawal dari Keisengan Menggunakan WhatsApp, Kami Sekeluarga Terpaksa Dihantui karena Keusilan Adikku

0
BERBAGI
Berawal dari Keisengan Menggunakan WhatsApp, Kami Sekeluarga Terpaksa Dihantui karena Keusilan Adikku
Berawal dari Keisengan Menggunakan WhatsApp, Kami Sekeluarga Terpaksa Dihantui karena Keusilan Adikku

Ada 5 hari dalam seminggu yang kugunakan untuk bekerja di Yogya. Di akhir pekan, aku selalu menghabiskan waktu di rumahku di Ambarawa untuk menengok keluargaku. Namun akhir-akhir ini, aku kesal karena setiap kali aku pulang, mamaku harus selalu ‘rewang’ karena banyak tetangga yang satu per satu menikah. Mereka seumuran denganku. Di saat aku masih berpikir dengan persoalan sederhana: “bagaimana agar tabungan tidak habis dengan mudah”, eh, justru tetangga-tetanggaku itu sudah melangkah ke jenjang petualangan yang lebih tinggi. Entah aku yang terlambat berpikir ke arah sana, atau aku sendiri belum siap dengan konsep pernikahan di usiaku yang hampir seperempat abad ini.

Ngomong-ngomong soal pernikahan, di akhir pekanku kali ini, aku, mamaku, dan adikku akhirnya menginap di rumah mbah yang ada di desa. Setahuku rumahku sudah lumayan ada di pedesaan, tapi rumah mbahku jauh lebih ‘ndeso’ dan jadul. Kami harus berakhir pekan di sini karena mamaku harus rewang tetangganya mbahku yang nikah. Yap, lagi-lagi aku tak dapat menghabiskan waktuku dengan mama karena mama harus rewang di tetangga.

Baca juga:

 

Rumah mbahku di desa ini layaknya rumah jadul yang sangat luas, dengan kamar-kamar yang terpisah oleh lorong-lorong panjang dan gelap dan suram. Suasana itu didukung dengan adanya kebun pisang yang luas di halaman belakang rumah mbah dan penerangan jalan yang minim ketika malam telah tiba. Ditambah lagi, anjingku senang sekali menggonggong ketika sudah larut malam,. Yang menyebalkan, ia selalu menggonggong ke arah kuburan yang kira-kira jaraknya hanya dua petak dari rumah mbahku. Dulu kami memelihara dua ekor. Tapi karena selalu ramai ketika larut malam, akhirnya kuputuskan memberikan satu ekor kepada temanku. Tapi tetap saja, anjing itu selalu menggonggong sekalipun sendirian.

Malam ini, aku tinggal berdua bersama adikku yang paling kecil. Mama dan mbah masih rewang. Adikku yang paling kecil ini namanya Uyak. Dia saat ini sudah kelas 3 SMP. Sebentar lagi sudah SMA. Tak terasa ia cepat bertumbuh besar. Tapi karena dia adikku yang paling kecil, jadi aku tetap merasa ia masih anak kecil. Ditambah, dia masih senang ‘nempel’ denganku dan masih suka usil terhadap teman-temannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here