Ketika Yupiter Bertemu Saturnus
Ketika Yupiter Bertemu Saturnus

Aku berjalan ke kelas, lalu kulihat siluet seorang cowok dan beberapa cewek di kelas. Seperti perintahnya, jangan masuk ke kelas dulu, maka aku menunggu di balik pintu kelas yang tertutup.

“Jadi siapa yang mau mengaku duluan?” tanya Dika tegas.

“Apa-apaan sih Dik?” sahut Lita ketus.

“Harusnya kita yang tanya, anggotamu kapan mau ngaku Dik? Oh.. atau harusnya aku bilang, kapan kamu mau ngaku kalau kamu niat banget nyelakain Yura?” lanjut Lita.

Tiba-tiba hening. Aneh, Dika tak biasanya diam seribu bahasa. Tak beberapa lama kemudian kudengar suara rekaman.

 

“Rasain! Emang dia pikir dia siapa hah? Yura itu sok centil banget deket-deketin Dika! …

Eh ngomong-ngomong, idemu untuk nyebar paku dan nuduh timnya Dika duluan itu keren banget tahu!

Ya dong! Aku kok dilawan! Serang aja anak buahnya Dika yang nggak bisa debat. Udah tu selesai urusan kita. Hahahahahaha!”  

 

“Kalau gitu, harusnya kamu bisa dong jelasin yang ini?” tanya Dika menantang.

“Eh..” Lita terdengar kaget. Tapi kemudian ia seperti bisa mengendalikan situasi. “Bisa aja itu rekaman bohong kan? Kamu pasti merekayasanya! Kamu kan punya duit banyak! Orang kaya kan bisa mbayar siapa aja untuk malsu suaraku!” teriak Lita.

“Lit. Aku nggak pernah bilang kalau ini suaramu.” jelas Dika.

via GIPHY

“Mas, masuk sini. Kayaknya kamu bisa bantu aku.” perintah Dika.

Aku masuk ke dalam kelas. Lita tampak masih terkejut. Wajahnya dan kawan-kawannya kini tampak begitu khawatir.

“Kamu ada di sana kan saat mereka ngobrol kayak gini?” tanya Dika.

Aku mengangguk. “Dan kamu sendiri Lit yang mengakui kalau itu suaramu. Aku harus nglakuin apa ke kalian?” ucap Dika.

“Kayaknya kamu bisa menggugat mereka dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan.” jawabku otomatis begitu saja.

“Jangan! Jangan! Jangan!” teriak gadis-gadis yang lain.

“Apa kalian tahu, Yura sangat percaya dengan kalian? Apakah kalian tahu kalau ia akan benar-benar down kalau tahu kalian mengkhianatinya?” tanya Dika.

“Aku bakal nglakuin apapun buat kamu Dik. Kita janji deh! Ya kan? Ya kan?” ucap Lita ketakutan.

“Aku nggak butuh pelayanan dari cewek rendahan kayak kalian!” ucap Dika dengan tegas.

“Ya setidaknya ganti lah biaya perawatannya!” sahutku.

Akhirnya mereka sepakat untuk tak mengganggu Yura lagi dan mengganti biaya perawatannya. Sebenarnya ini bukanlah perkara sepele. Tapi satu hal yang aku pelajari saat ini adalah, kalau perempuan cemburu, ia bisa melakukan apa saja meskipun itu perbuatan iblis.

Baca juga:

 

Dika dan aku kemudian kembali ke ruang perawatan. Yura sudah sadar.

“Kata juri tadi, karena skor terakhir jauh lebih banyak timmu, jadi timku kalah dalam pertandingan kali ini.” ujar Yura dengan mata berkaca-kaca.

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

one × 3 =