Ketika Yupiter Bertemu Saturnus
Ketika Yupiter Bertemu Saturnus

Akhirnya aku langsung pulang. Aku masih menunggu bis di halte dekat sekolah. Sepertinya Yura justru aman bersama Dika malam ini. Tak lama setelah aku keluar dari sekolah, kulihat dari kejauhan mobil jemputan Dika datang ke sekolah. Kemudian kulihat Dika dengan mudahnya membopong Yura ke dalam mobil. Aku kadang heran, Jupiter dan Saturnus ini, mereka selalu bersaing, tapi mereka tak pernah mengungkapkan perasaan satu sama lain.

Baca juga:

 

Keesokannya, semua pendukung terkejut dengan kehadiran Yura sebagai kapten tim basket. Sekalipun masih tampak perban membalut kakinya yang sudah terlapisi sepatu basket, Yura tampak tak mempedulikan semua itu. Tapi lebih dari itu, ekspresi paling terkejut datang dari semua anggota tim Yura. Ketika Yura berdiskusi dengan mereka, topeng dipasang dengan begitu rapi. Senyum mereka begitu palsu ketika berbicara dengan Yura.

via GIPHY

Aku sengaja duduk di bangku pemain cadangan dengan peralatan P3K. Kali ini aku meminta panitia untuk menjadikanku tim kesehatan. Sayup-sayup kudengar mereka berbisik satu sama lain.

“Nanti injek aja kakinya.” “Tabrakin dulu badan kita biar kelihatan kayak nggak sengaja.”

Dika mengawasiku dari kejauhan. Tatapan matanya seolah menyuruhku untuk ‘jangan lakukan apa-apa sekarang’.

Pertandingan dimulai. Karena ini permainan basket. Tampaknya tim Dika mengalami kejadian serupa dengan saat bertanding voli. Fokus mereka teralihkan oleh ‘yang lain’. Sekalipun tampak terpincang-pincang, Yura masih bisa dengan gesit mendribble dan mengoper bola ke rekan timnya yang lain. Pertandingan ini bisa jadi pertandingan terakhir buat kedua tim. Juri telah memutuskan bahwa pertandingan estafet kemarin berakhir seri. Jadi skor mereka saat ini pun menjadi seri (2-2).

Set pertama, tim Yura menang tipis melawan tim Dika. Yura tampak begitu bersemangat. Sesekali ia meringis kesakitan karena kakinya. Sementara Dika di seberang marah-marah kepada timnya karena tidak fokus.

“Kamu masih bisa melanjutkan?” tanyaku kepada Yura sambil memeriksa kakinya.

“Masih bisa. Nanggung. Satu set lagi, kalau aku menang, semua bakal selesai.” jawabnya enteng. Aku masih nggak percaya kalau semalam mereka tampak rukun dan kali ini bersaing lagi.

“Kakimu bengkak, Ra.” kataku setelah membuka perban Yura dan kini mulai menggantinya.

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

fifteen + one =