Sebuah Lukisan dan Masa Lalu
Sebuah Lukisan dan Masa Lalu

“Nek..” sapa Nod.

“Siapa kalian?” tanya Nenek ketika menoleh dan mengamati Nod dan Ara. Seketika hati Nod hancur ketika tahu bahwa neneknya telah melupakannya. Ara pun merasakan itu dan ikut sedih.

“Ah! Kalian pasti teman Nod! Nod sedang berlatih melukis di kamarnya! Biar aku panggilkan dulu ya!” ucap nenek. Nod dan Ara terkejut mendengarkannya, lalu Ara berlari mencegah nenek berdiri karena tampak kesulitan berdiri.

Baca juga:

 

“Nek! Nenek ingat Nod? Tak usah repot-repot memanggilnya.” tanya Ara antusias.

“Bicara apa kau? Hahaha.. ia selalu giat berlatih melukis. Bahkan saat ini pun ia terus berlatih di kamarnya.” jelas nenek sambil tertawa.

“Nek, bagaimana lengan nenek?” tanya Nod sedih sambil merangkak di dekat nenek.

“Ah ini.. nenek kemarin terjatuh saat hendak membelikan cemilan kesukaan Nod. Ia pasti lapar berlatih terus seharian.” jelas nenek. Hati Nod kini diliputi perasaan bersalah.

“Tapi Nod tak akan berhasil menjadi pelukis nek!” keluh Nod.

“Ah bagaimana mungkin?! Nenek yakin Nod akan menjadi pelukis hebat!” bantah nenek.

“Tapi ia kehilangan harapan dan menyerah nek!” balas Nod.

“Tidak mungkin! Itu tak mungkin akan terjadi! Karena cucuku bukanlah orang yang mudah menyerah.” ujar Nenek sambil tersenyum hangat. Meluluhkan hati Nod.

Nod kini menangis tersedu-sedu di hadapan Nenek. “Nenek.. nenek jaga kesehatan ya? Jangan memaksakan diri membelikan cemilan untuk Nod lagi. Biar Ansi saja yang melakukannya.” kata Nod sambil sesenggukan. Ara yang melihatnya begitu terenyuh dengan perasaan lembut Nod.

“Jadi lukisan itu memang benar buatanmu!” ucap Ara.

“Kamu pasti lancang membongkar barang-barangku?” ucap Nod.

“Salah sendiri kenapa kamarmu begitu berantakan. Aku hanya tak tahan tidur dengan kamar kotor seperti itu!” bela Ara.

“Nod? Melukislah lagi!” pinta Ara.

“Untuk apa? Waktu kita tinggal beberapa hari lagi.” bantah Nod.

“Ayolaah.. melukislah seperti biasanya. Aku tahu perasaanmu. Kamu sudah tak sabar untuk melukis lagi kan?” tanya Ara menggoda. Nod tersenyum malu.

Itulah pertama kalinya bagi Ara lupa soal urusan siapa yang harus mati atau hidup. Ia hanya ingin agar mimpi Nod menjadi pelukis yang hebat terwujud.

Bersambung ke: Memeriksa Sesuatu yang Tertinggal  

Baca juga:

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

twenty + 14 =