Beranda Cerpen Bakso yang Dibuat dari Keputus-Asaan

Bakso yang Dibuat dari Keputus-Asaan

0
BERBAGI
Bakso yang Dibuat dari Keputus-Asaan (bag 1)
Bakso yang Dibuat dari Keputus-Asaan (bag 1)

Ratmo duduk di pinggir jalan. Panas terik matahari membuatnya harus berhenti sejenak. Dikibas-kibaskan tangannya untuk sedikit mengusir rasa panas. Dilihatnya gerobak bakso miliknya yang bahkan cicilannya belum lunas sampai sekarang. Aneh memang. Rasanya bunga untuk menyicil gerobak terus bertambah dengan cepat. Ratmo merasa kecewa dengan keputusannya untuk meminjam uang di lintah darat. Hanya karena gerobak saja, ia susah mengembangkan dagangannya. Belum lagi, harga BBM dan daging yang tidak jelas naik-turunnya membuat dia harus bekerja ekstra keras agar dagangannya tetap bertahan.

Pemerintah memang tidak pernah memihak rakyat kecil. Rakyat kecil kerap berusaha lebih keras daripada rakyat yang sudah mapan. Tapi pada akhirnya, tidak ada satupun bantuan pemerintah yang sampai pada dirinya yang telah berusaha keras ini. Padahal, Ratmo sudah kerap memenuhi prosedur yang diberikan pemerintah untuk menerima bantuan, tapi tetap saja.

Ratmo terus melamun. Baru kali ini dia benar-benar meratapi nasibnya. Uang penghasilannya pas-pasan. Dagangannya baru laku setengahnya. Padahal, hari sudah mau sore. Belum lagi perjalanan kembali ke rumah cukup jauh dan melelahkan. Tiba-tiba ia tersadar. Ia belum beli daging untuk bakso uratnya. Padahal, uang yang ia peroleh belum cukup untuk membeli daging. Uang perolehan hari ini hanya cukup untuk membayar uang cicilan gerobak yang sudah jatuh tempo besok. Kalau tidak dibayarkan, bisa-bisa Ratmo dicaci maki dan gerobaknya dirampas.

Mengingat kenyataan itu Ratmo mulai patah semangat. Kesal. Marah. Ia merasa nasibnya begitu sial. Tidak ada harapan lagi untuk berdagang bakso sepertinya. Sepertinya, berlaku jujur dan baik pada orang lain hanyalah bencana pada zaman ini.

Baca juga:

 

Ratmo berdiri. Dengan lemas ia melangkah ke gerobaknya. Dilihatnya setiap detail dagangannya: bakso, sayur, mie, kuah. Rasanya besok ia tidak dapat berdagang lagi. Dengan sisa yang ia miliki, Ratmo melanjutkan perjalanannya mengelilingi kota.

Senja sudah tiba. Dagangan Ratmo masih tersisa untuk setidaknya 5 porsi. Masih sisa cukup banyak untuk makan malam nanti. Ratmo mendorong gerobak baksonya kembali ke arah rumah. Ia terus mengetuk mangkok, berharap ada orang yang mau membeli 5 porsi terakhir dagangan Ratmo. Hanya saja, gas kompor Ratmo sebentar lagi habis. Siapa yang mau membeli bakso berkuah dingin?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here