Beranda Mini Novel Eri dan Penjual Kerupuk Tua

Eri dan Penjual Kerupuk Tua

0
BERBAGI
Eri dan Penjual Kerupuk Tua
Eri dan Penjual Kerupuk Tua

Sore itu mungkin menjadi sore paling terik di bulan Mei bagi Eri. Eri terduduk melamun di ruang tamu rumahnya. Menanti teman-temannya datang mengajak bermain layangan di halaman depan rumahnya. Rumahnya tidak lah besar, tapi anak-anak kampung sekitar menjulukinya anak tuan tanah karena halaman rumahnya yang luas bisa memberikan kebahagiaan melebihi harta apapun. Mereka bisa bermain layangan atau bermain bola sepak dengan puas tanpa khawatir ada kendaraan yang lewat mengganggu keasyikan mereka. Setiap sore halaman rumahnya akan dipenuhi oleh anak-anak kampung yang bermain layangan, berlari ke sana kemari. Ramainya tidak akan lengkap tanpa Eri di dalamnya.

Sayangnya sore itu begitu sepi. Eri memegangi layangan yang sudah dipersiapkannya dari kemarin. Ia sengaja membeli dan merakit layangannya sendiri. Tak sabar dirinya memamerkannya kepada teman-teman sepermainannya. Layangan asli buatan tangan Eri. Dengan bambu pilihan dari rumah Pak Supono. Pak Supono dengan baik hati mengiris-iris bambu menjadi buluh-buluh yang cukup kuat untuk layangan. Tidak ada yang bisa menolak permintaan Eri kecil yang manis dan sopan. Setelah itu, Eri merengek pada ayahnya untuk membelikan kertas minyak yang warna warni. Tentu saja ayahnya akan menurutinya. Tidak hanya kertas minyak, sang ayah membelikan Eri lengkap dengan “bolah” yang dijamin mampu memutuskan layangan rival Eri ketika bermain nantinya. Semalaman Eri dan ayahnya merakit layangan terkeren yang pernah ada di kampung. Jadilah, layangan berwarna merah dan hitam dengan ekor panjang di ujungnya. Buluh bambu membentang dengan perkasa di layangannya. “Bolah” terkuat (kata ayah Eri) telah dipasang, siap menumpas layangan rival Eri.

Baca juga:

 

Dan Eri masih sendiri menunggu kawan-kawannya…

Eri melamun. Penasaran. Apa kiranya yang terjadi sore ini sehingga kawannya tak kunjung muncul?

Sore ini tidak ada pelajaran mengaji. Pun tidak ada kegiatan anak-anak lain. Tapi mengapa se-sepi ini?

Eri turun dari tempat duduknya. Menatap ke luar jendela. Sesekali angin meniup dedaunan dan mereka terlonta-lonta dibawa angin. Begitu pula pasir. Rasa-rasanya angin akan membuat pasir-pasir lembut itu masuk ke mata Eri jika keluar saat itu. Eri bertanya-tanya, apakah karena terlalu panas makanya kawan-kawannya tak kunjung datang?

Eri menunggu sendiri dalam sepi
Eri menunggu sendiri dalam sepi

Waktu sudah menunjukkan jam 4 sore. Sungguh suasana yang terlalu sepi untuk jam 4 sore. Ayah dan Ibu Eri belum pulang kerja. Ia sudah terbiasa berdua bersama neneknya. Pada jam ini, neneknya pasti masih tertidur pulas di kasur empuknya. Maklum, neneknya sudah cukup tua untuk hidup sebagai orang dewasa. Makan sudah sulit, pun juga tidur sudah tak begitu teratur. Kadang terbangun di tengah malam, dan tertidur di siang bolong. Rasanya aneh juga, mengapa kedua orangtua Eri mempercayakan Eri kepada neneknya yang semestinya juga dalam penjagaan. Begitulah orang dewasa masa kini. Darah daging sendiri lebih dipercayakan pada orang lain demi memenuhi kebutuhan masa kini yang tak kunjung stabil.

Eri tiba-tiba tersadar dari lamunannya. Ia mendengar suara langkah. Suara itu membuatnya antusias. Segeralah dia menengok keluar jendela. Namun tidak ada siapa-siapa. Eri menunggu. Lalu terdengar lagi suara langkah. Tapi kali ini tak hanya itu saja, Eri mendengar suara lain.

“Phukk.. Phukkk..” suara berat dari seorang kakek. Suaranya begitu berat namun juga keras. Tampak kelelahan tersirat dari suaranya.

Eri merasa takut dengan suara berat itu. Suara yang bagi dia sangat aneh dan mengerikan. Belum selesai rasa takutnya, Eri mendengar suara langkah diseret itu semakin mendekat. Baru saja ia ingin mundur dari sisi jendela, tiba-tiba wajah kakek muncul dengan jelas di depan wajahnya.

“PHUKKK,,,, PHUKKKKK..”

Eri terlonjak ke belakang saking kagetnya. Ia berlari ke dalam kamar neneknya. Memang ada kaca yang membatasi mereka berdua. Namun kemunculan kakek tersebut terlalu tiba-tiba. Eri mengingat jelas, kakek tersebut menggunakan baju lusuh berwarna coklat dengan topi khas tukang becak di kepalanya. Ia memanggul dua gentong yang sepertinya berisi kerupuk. Jantungnya berdebar begitu kencang mengingat wajah mengerikan dari kakek penjual kerupuk itu. Wajah yang hitam legam. Keriput yang menggaris dengan keras di wajahnya. Serta wajah putus asanya. Ia berlari dan berteriak sejadi-jadinya ke kamar neneknya.

Namun betapa terkejutnya Eri, ketika di kamar ia tidak mendapati neneknya tertidur.

Tidak ada seorangpun di kamar nenek.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here