Bakso yang Dibuat dari Keputus-Asaan

Di tengah perjalanan, Ratmo melihat seorang anak gadis. Kira-kira usianya 13 tahun. Rambutnya yang panjang dikepang. Ia mengenakan jaket hitam. Tampaknya sedang menunggu seseorang.

Baca juga:

 

Ratmo berhenti. Anak itu tampaknya sudah menunggu lama dan kelaparan.

“Bakso dek?” tanya Ratmo.

Anak itu hanya diam. Melihat bakso yang dijual Ratmo nampaknya menggiurkan.

“Sebenarnya saya pingin pak.. tapi saya lagi nggak bawa uang.” Jawab anak itu.

Ratmo menatap wajah anak itu. Dari wajahnya, sepertinya anak itu belum makan dari siang tadi. Ratmo mengambilkan seprosi bakso dan diberikannya kepada anak itu.

“Tapi pak.. kan saya nggak pesan?” tanya anak itu menolak bakso yang disuguhkan Ratmo.

“Nggak apa-apa. Ambil saja dek. Gratis.” Jawab Ratmo.

“Terima kasih pak.” Dengan malu-malu anak itu menerima semangkok bakso dari Ratmo.

“Bapak tinggal di mana?” tanya anak itu.

“Satu kilometer lagi dari sini sudah rumah saya.” Jawab Ratmo sambil mengusap wajahnya.

“Wah..berarti bapak ini dalam perjalanan pulang ya?” tanya anak itu lagi.

“Iya dek..” jawab Ratmo ramah meskipun sedikit lelah.

“Boleh saya lihat rumah bapak? Saya penasaran, seperti apa rumah tukang bakso yang baik kepada saya.” Tutur anak itu antusias.

“Tapi kayaknya adek kan lagi nunggu bapak.. nanti dicari lho..” Ratmo setengah menolak.

“Nggak papa pak.. Lagian kayaknya papa juga masih lama. Ayo pak!” ajak anak itu setelah baksonya habis.

Mereka berdua berjalan ke rumah Ratmo. Jauh dari bayangan anak itu, rumah Ratmo agak jauh dari keramaian. Tetangga-tetangganya juga jauh satu sama lain. Belum lagi, rumah Ratmo yang kecil hanya memiliki sedikit penerangan.

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!