Beranda Cerpen Pesan yang Dikirimkan Berturut-turut di Jalan itu Ternyata Bukan dari Pacarku

Pesan yang Dikirimkan Berturut-turut di Jalan itu Ternyata Bukan dari Pacarku

0
BERBAGI
Pesan yang Dikirimkan Berturut-turut di Jalan itu Ternyata Bukan dari Pacarku
Pesan yang Dikirimkan Berturut-turut di Jalan itu Ternyata Bukan dari Pacarku

“Biasanya dijemput jam travel jam berapa dek?” tanya pacarku setelah turun dari motor.

“Mmmmm.. antara jam 5-6 sore kayaknya mas..” jawabku. Ragu travel akan menjemputku tepat waktu karena jalanan macet. Maklum, aku pulang bertepatan dengan arus balik.

“Uhuk! Uhuk! Uhuk!”

“Sudah minum obat belum mas? Gimana kalau kamu pulang sekarang aja? Daripada nanti, malah kemalaman lho! Tambah sakit nati.” Saranku setelah mendengar pacarku terbatuk-batuk. Sudah beberapa hari ini dia batuk dan belum sembuh. Suaranya juga sempat hilang karena sering pulang tengah malam. Akhir-akhir ini dia ikut latihan buat festival takbiran.

“Nanti aja lah.. Aku nunggu kamu sampai jam 5.. Kalau jam 5 belum dijemput, aku pulang nggak apa-apa kan dek?” tanya pacarku.

“Apa-apaa..” jawabku menggoda.

Baca juga:

 

Sore itu cukup mendung. Kami berdua duduk di pinggir jalan raya. Melihat lalu-lalang aktivitas pengendara saat arus balik. Melihat polisi yang sedang mengatur lalu lintas agar lancar. Melihat betapa banyaknya kendaraan yang melaju kencang, seolah-olah mereka tidak memiliki banyak waktu untuk melaju perlahan. Tidak ada yang mau mengalah. Semua ingin menjadi yang tercepat, yang terdepan.

Sesekali aku bersandar di bahu pacarku. Melihat pacarku yang hanya diam dan melamun dari tadi. Entah apa yang dipikirkannya.

“Mikirin apa mas?” tanyaku penasaran.

“Nggak mikirin apa-apa. Cuma lagi ngitung berapa mobil merah yang udah lewat dari tadi.” Jawabnya datar.

Dasar. Dari dulu dia selalu mikir sesuatu yang nggak penting dan aneh. Tapi justru dari situ dia tampak menarik.

“Mmmmm mas. Sudah jam 5 lho.. Kamu pulang aja..” suruhku setelah melihat jam tangan hitamku.

“Sebentar lagi deh.. Lima belas menit aja yaa? Lagian travelmu belum datang nih.” tawar pacarku.

“Sekarang aja! Ada calon penumpang lain kok di sini.. Nggak apa-apa.” Jawabku

“Ya sudah.. Aku pulang sekarang yaa?” jawab pacarku sambil berdiri lalu mencubit pipiku. “Hati-hati!”

“Sana! Sana!” usirku sambil tertawa kecil.

Pacarku berjalan menuju motornya yang diparkir tidak jauh di depan kami. Setelah motornya menyala, ia lalu pergi sambil melambaikan tangannya.

Aku melihatnya semakin menjauh. Dan kemudian hilang di tengah panjangnya antrian mobil dalam arus balik liburan.

. . .

Baca juga:

 

Jam 5.30. Travel belum datang menjemput. Untung saja satu jam lebih tadi ditemani oleh pacarku. Kalau tidak, bisa mati kebosanan aku.

TING!! Handphoneku berbunyi. SMS dari pacarku.

“Di sini mobilnya mengular. Hiiiii!!”

Aku tertawa. Ternyata dia belum sampai rumah juga. Sepertinya jalan memang terlalu macet , bahkan untuk sepeda motor sekalipun.

“Emang iya? Aku belum dijemput nih…! Hati-hati di jalan lho mas..” balasku.

TING!!

“Ini bis banyak banget dek.. Jadi susah lewat.. Kayaknya emang macet banget. Jangan-jangan nanti dari tempatmu ke Jogja aja bisa dua jam! Hahahaha..”

Belum sempat kubalas SMSnya, rupanya travel yang menjemputku sudah datang.

Aku memasukkan barang-barangku, lalu duduk. Kulihat jalanan, ternyata memang padat.

Rasanya aneh sepanjang jalan ia terus mengirimkan pesan singkat
Rasanya aneh sepanjang jalan ia terus mengirimkan pesan singkat

“Ini aku sudah dijemput.
Nggak lah yaa.. Semoga lancar. Amin!”

Kutunggu 10 menit. Tidak ada balasan. Biasanya kalau sudah begini dia sudah dekat rumah. Tinggal menunggu kapan dia membalasnya.

Lima belas menit kemudian. Belum ada balasan. Tumben.

TING!!
“Di perempatan dekat lapangan Denggung ada yang kecelakaan. Orangnya naik motor. Kasihan. Hati-hati di jalan ya dek..”

“Oke. Kamu sudah sampai rumah?” balasku.
Sepuluh menit. Tidak ada balasan.

Rupanya travel sudah dekat dengan perempatan lapangan Denggung. Sepertinya apa yang diberitakan pacarku tadi benar. Di depan masih terlihat keramaian. Ada sebuah bis besar yang berhenti dan beberapa polisi yang terlihat di pinggir jalan. Semua kendaraan melaju perlahan. Begitu pula dengan travel yang kutumpangi.

Aku penasaran dengan orang yang kecelakaan. Kuperhatikan dengan seksama. Kulihat motor yang sudah hancur. Sepertinya motor itu terlindas bis.

Kulihat lagi motor itu. Sepertinya tidak asing. Kubaca nomor platnya.

Aku lalu terdiam. Menangis. Badanku lemas seketika.

Mataku tetap tertuju pada motor itu, lalu laju travel pun terus mengajakku untuk melihat badan yang sudah diamankan di pinggir jalan. Sebuah badan yang sudah tertutup koran.

Jaket itu.. Rambut itu.. Aku kenal siapa korban kecelakaan itu . .

TING!!

“Aku sudah sampai. Kamu sudah sampai lapangan Denggung?”

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here