Alunan Nyanyian Mantra Cinta
Alunan Nyanyian Mantra Cinta

Aku tak tahu kapan mulai menyadarinya. Sepertinya semua bermula dari saat kumendengar suaranya yang indah, begitu menyamankan telinga. Nyanyian yang dilantunkannya bagaikan mantra. Membuatku langsung jatuh cinta pada suaranya. Hanya suaranya, selayaknya seseorang yang mengidolakan penyanyi dengan lagu favoritnya. Tak lebih dari itu.

“Mbak Nisa, saya bisa minta tolong?” tanyaku seusai latihan paduan suara.

“Oh iya Mas? Gimana?” jawabnya langsung dengan suara lembut yang khas.

“Sudah beberapa kali kita latihan ini. Saya rasa solis yang sebelumnya tidak cocok untuk lagu tadi. Beruntung solis tidak hadir beberapa kali ini, jadi saya bisa mendengar suara Mbak Nisa. Bisa minta tolong untuk gantikan solisnya? Khusus lagu ini saja.” Jelasku.

“Eh mas.. Memangnya nggak apa-apa? Saya nggak enak sama solis sebelumnya.” Tanya Nisa ragu.

“Nggak apa-apa. Saya kan dirigennya. Jadi berhak untuk menentukan yang terbaik. Lagian solisnya jarang datang latihan. Jauh lebih baik memanfaatkan Mbak Nisa yang selalu hadir, kan?” ucapku meyakinkan.

“Oh begitu.. oke deh mas saya bisa.” Jawabnya dengan senyum tipis yang selalu ia berikan kepada lawan bicaranya.

Kami berpisah saat itu juga. Tapi aku sendiri merasa ada yang aneh. Apa orang-orang mengatakannya? Semedot? Perasaan tak ingin berpisah namun harus berpisah?

Baca juga:

 

Aneh. Perasaan ini sudah lama tak kurasakan. Lebih seperti perasaan jatuh cinta. Atau.. bagaimana ya menjelaskannya?

Lagipula, saat ini aku sedang mempersiapkan pernikahan dengan tunanganku. Dan aku sudah memegang rekor setia selama beberapa tahun kami pacaran dulu. Tergoda? Tidak mungkin.

Aku pulang. Tapi sepanjang perjalanan aku terus memikirkan Mbak Nisa. Ah Nisa saja. Toh kami seumuran. Kami memang baru bertemu beberapa kali. Tapi baru pada latihan kali ini aku mendengarkan suaranya yang merdu. Imbuhan ‘Mas-Mbak’ di antara kami memang menandakan bahwa kami masih ada jarak satu sama lain. Kami baru salling kenal. Tapi setidaknya aku tahu bahwa ia masih lajang.

Ciri khas laki-laki yang mengingini seseorang adalah menggali statusnya, lalu berusaha mencari cara untuk bisa tetap berkomunikasi. Astaga! Aku baru saja melakukan itu.

Sudahlah, lebih baik aku tidur. Barangkali hasratku menurun ketika bangun esok pagi…

“Jadi sudah berapa jam perjalanan kita?” tanyaku pada seorang perempuan di sebelahku. Aneh. Di mana aku?

“Baru 4 jam kok!” jawab perempuan itu sebelum aku menyadari di mana tepatnya kami berada. Dan.. siapa dia? Dari suaranya tak asing.

“Berapa lama lagi kita sampai tujuan?” tanyaku lagi seolah-olah aku tahu ke mana kami sedang pergi.

“Ya masih lama lah! Kok buru-buru amat?” jawab perempuan itu lalu menyender ke bahuku dengan nyamannya.

Aku tahu suara siapa itu. Bukan suara tunanganku. Tapi seseorang yang aku tahu dari suaranya. Benar saja. Ketika kulihat siapa yang bersandar di bahuku, dia adalah Nisa.

“Nis! Kamu ngapain?” tanyaku terkejut karena dia benar-benar nyaman di bahuku. Kami sedang dalam perjalanan di bis rupanya. Entah menuju ke mana.

“Kenapa sih? Kayak nggak pernah disenderin aja sama aku.” Balasnya kesal memanja.

“Kita mau ke mana?” tanyaku meyakinkan.

“Gimana sih? Kan kita mau survei lokasi job kita. Tulungagung.” Jelasnya sambil mendengus kesal.

“Oh ya? Sampai Tulungagung? Jauh sekali?” tanyaku malah jadi heran.

“Ya sudah. Makanya itu kan masih lama. Kenapa kamu kayak nggak nyaman sama aku?” tanyanya kebingungan.

“Mmm.. maaf. Tapi aku kan sudah punya tunangan Nis?” jelasku masih ling-lung.

“Tunangan? Kamu itu ngelantur apa sih?!” Nisa menjauhkan badannya dariku. Dia menatapku heran, lalu mengangkat tangan kirinya.

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

twelve + two =