Beranda Cerpen Seseorang yang Sengaja Meninggalkan Payung Untukku

Seseorang yang Sengaja Meninggalkan Payung Untukku

0
BERBAGI
Seseorang yang Sengaja Meninggalkan Payung Untukku
Seseorang yang Sengaja Meninggalkan Payung Untukku

“Payung siapa yang tertinggal ini?” tanyaku kepada kawanku yang berganti jaga denganku.

“Ah, seperti aku sudah di sini sedari tadi. Bukankah kau yang berjaga?” ujar kawanku itu.

Bagaimana bisa payung ini tertinggal di sini. Begitu tepat ketika hujan deras kembali datang setelah reda sementara.

“Kubawa saja kalau begitu.” ucapku tanpa ditanggapi oleh kawanku yang kini sudah berdiang di belakang meja kasir.

Baca juga:

 

Baru saja aku membuka payung hendak melangkah, seorang gadis menatapku. Belum pernah aku melihat gadis secantik itu. Rambutnya yang hitam tampak lebih gelap kala basah kuyup terkena air hujan.

“Maaf. Payung itu milik saya…” katanya sopan.

“Ah. Maaf. Tadinya saya ingin menyimpannya. Barangkali ada yang akan mengambilnya besok. Saya hendak menggunakannya untuk ke halte portabel dekat sini.” jawabku lantas memberikan payung yang masih terbuka itu kepadanya.

“Portabel? Baiklah kita ke sana berdua dengan payung ini!” ucapnya menawarkan tumpangan.

“Bolehkah?” tanyaku meyakinkan.

Ia mengangguk.

Entah mengapa waktu tak membiarkanku menunggu hujan berhenti. Kami justru berdua di bawah payung dan hujan yang menyiram. Ia hanya diam. Kuambil gagang payungnya menggantikan dirinya yang sedari tadi berjinjit memayungiku.

“Semestinya aku yang memayungimu nona!” ucapku dibalas dengan senyuman manis d bibirnya.

Gadis itu kini menengadah menatapku. “Ah, bahumu basah. Mengapa kau membiarkannya demikian?” tanyanya sambil menunjuk arah bahu kiriku yang kini diterpa air hujan.

“Tak apa. Asal kamu tak kebasahan. Kamu sudah cukup basah berlari-lari untuk mengambil payungmu tadi.” ucapku.

Ia tersipu malu. Aku bingung. Keberuntungan macam apa ini? Siapa sebenarnya gadis manis ini?

“Aneh. Bis tak kunjung datang. Sementara hujan bertambah deras. Tak inginkah kau berteduh?” tawarku.

“Jangan. Aku senang menikmati hujan bersamamu berdua di sini.” ucapnya. Kini gantian perkataannya yang membuatku tersipu malu.

“Ada apa ini? Aku bahkan tak mengenalimu.” ucapku pada gadis itu.

“Tapi aku mengenalmu.” ucapnya. Aku bingung.

“Maaf? Maksudnya?” tanyaku.

“Aku mengenalmu jauh lebih dari dirimu sendiri.” ucapnya lagi. “Aku begitu merindukanmu…” sambungnya.

“Bis akan segera datang. Payung ini akan kembali padamu. Dan kamu akan bertemu dengan seorang gadis. Gadis itu adalah aku. Tapi bukan aku yang sekarang. Dekatilah dia. Rebut hatinya. Jangan malu-malu. Kamu adalah satu-satunya orang yang akan dicintainya kelak.” ucapnya. Aku benar-benar kebingungan dengan ini semua.

Perkatannya benar. Tak lama, bis datang. Ia menyuruhku segera masuk.

“Mengapa kau tak menjelaskannya bersamaku di jalan?” tanyaku.

“Tidak. Batasku hanya sampai sini.” sementara bis kini menepi di portabel.

Aku melangkah masuk ke dalam bis. Kulihat ia menangis menatapku pergi.

“Jaga kesehatanmu! Jangan tinggalkan aku sendiri!” teriaknya, sementara pintu bis menutup.

Hari berganti hari. Gadis payung itu terus mengingatkanku akan sore di kala hujan deras.

Entah kapan ia akan meninggalkan payungnya di sini lagi…

“Tadi ada payung yang tertinggal lagi. Tampaknya milik seorang gadis” ucap kawanku ketika aku hendak menggantikan dirinya.

“Gadis?” tanyaku heran.

“Entahlah…” ujar kawanku lalu berkemas hendak meninggalkan meja kasir.

Ting! tong!

 “Selamat datang di toko kami! Selamat ber…” salamku terhenti ketika terkejut melihat siapa yang masuk.

“Maaf, payung saya tertinggal.” Itu gadis payung yang muncul minggu lalu. Tapi tampak jauh lebih muda dari yang menemui aku.

Gadis itu menatapku. Ia seolah membeku sejenak. Begitu pun aku.

“Ah, silahkan diambil!” ucapku sambil menunjuk payung yang ia tanyakan. Sepertinya benar bahwa gadis ini bukanlah gadis yang dengan sengaja menemuiki minggu lalu.

“Terima kasih sudah menyimpankannya!” ucapnya lalu hendak pergi.

“Tunggu dulu!” teriakku. Gadis itu terhenti.

“Boleh saya minta nomornya?” tanyaku padanya.

“Tentu saja!” ucapnya sambil tersenyum manis.

Inilah kisah awal kami sebagai seorang kekasih. Entah seaneh apakah cerita kami. Tapi, aku akan selalu mengingat pesannya ketika ia menangis melihatku masuk ke dalam bis.

Jaga kesehatanmu! Jangan tinggalkan aku sendiri!

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here