Para ‘Lampu Jalan’ yang Menemani Petualangan Tunggalku
Para ‘Lampu Jalan’ yang Menemani Petualangan Tunggalku

Kulihat kiri dan kananku. Tampak mereka semua memasang wajah datar. Tak bersuara. Tak nampak adanya keceriaan seperti ketika berada di rest area tadi.

Yang kudengarkan hanya gemuruh motor yang menderu-deru. Namun ini terlalu aneh. Makin lama kudengar, deru itu makin tampak bagai suara lain. Seperti suara geraman hewan buas.

GRRRR… GRRRRR…. GRRRRRR…

Lampu-lampu motor mereka semakin terang. Begitu terang hingga akhirnya aku harus menutup mataku dan menjaga laju motorku agar tetap sama dan tak mengacaukan formasi.

Ketika lampu mereka meredup. Kulihat wajah mereka semakin pucat. Seolah.. Bukan.. Bukan seolah lagi. Pucat kulit mereka terus menggerogot hingga akhirnya kulihat kulit mereka mengelupas. Menyisakan jaringan otot di wajah mereka. Terus mengelupas hingga menyisakan.. tulang tengkorak mereka.

Aku berusaha menyadarkan diriku. Apakah ini semua khayalanku semata karena sudah larut malam. Kubunyi-bunyikan klakson untuk memanggil Tarno. Tak ada reaksi apapun.

TIIIIIIIIIIN! TIIIIIIIIIIIIIIN! TIIIIIIIIIIIIIIIIIIN!

Kubunyikan lagi lebih panjang agar Tarno sadar. Tapi Tarno tak juga mengurangi kecepatannya.

Ada apa ini?

“TARNO?! TARNO?! ADA YANG TIDAK BERES DENGAN KAWAN-KAWANMU!!!” kuteriakkan namanya berulang kali bergantian dengan memencet klaksonku. Tak ada jawaban. Ku nyala-matikan lampu jauhku dan kuarahkan tepat ke spionnya agar ia sadar. Tak ada jawaban jua.

Sementara aku berusaha menarik perhatian Tarno, sepasang pengendara mendekati motorku. Tinggal pakaian dengan tulang belulang menuju ke arahku dengan cepat. Bola matanya tampak begitu jelas melirik ke arahku kemudian lepas dari tempatnya. Menyisakan tengkorak dengan lubang yang berisikan belatung. Ingin muntah rasanya. Namun aku segera menghindar dari serangan mereka. Belum selesai dengan sepasang pengendara yang ada di sisi kananku. Kini kudengar gemuruh motor dari belakang, tanpa ragu melaju tepat ke arahku. Dengan gesit aku menghindarinya di tikungan, membuatnya menabrak pohon besar yang berdiang di situ.

Aku menambah lajuku, menyusul Tarno yang ada di depan. Namun entah mengapa Tarno melaju dengan begitu cepat sehingga aku tak pernah bisa menyusulnya. Masih dengan upayakku menarik perhatian Tarno, kawan-kawannya terus-menerus menyerangku. Yang lebih tak mengenakkan adalah, kawan-kawannya kini telah menjadi belulang semua.

Apa yang terjadi? Hutan ini terkutuk?!

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

nineteen + 17 =