Eri, Layangan, dan Penjual Kerupuk
Eri, Layangan, dan Penjual Kerupuk

Roni menyiapkan layangannya. Tak mau kalah Dodit juga mengukur tegangan bolahnya. Sudah cukup kuatkah untuk mengalahkan layangan musuh-musuhnya. Susi dengan layangannya yang unik, berwarna pink dan ungu, dan juga ekor yang berupa simpul lucu seperti rambutnya yang teruntai, sudah siap sejak awal. Susi tidak pernah menang. Tapi layangannya selalu menyita perhatian siapapun yang melihatnya. Bagus dan Benny sudah siap membantu siapapun yang hendak menerbangkan layangannya. Mereka adalah orang pertama yang tahu posisi bagaimana yang cocok untuk menerbangkan layangan. Mereka bisa tahu dari mana arah datangnya angin dan bagaimana seharusnya layangan ditarik dan diulur. Tapi mereka memilih menjadi mentor dan yang siaga mengejar layangan saja.

Akhirnya ketiganya siap menerbangkan layangannya masing-masing. Dodit menolak tawaran Benny maupun Bagus. Ia memilih menerbangkan layangannya sendiri. Layangan bergambar naga dengan corak yang sangat kentara. Naga berwarna merah dengan tanduk bercabang dan wajah yang garang. Roni dengan layangannya yang ala kadarnya, namun selalu paling gesit untuk menghindari serangan musuh. Ia dibantu oleh Bagus, sementara Benny membantu Susi menerbangkan layangannya. Layangan paling imut di kampung.

Layang-layangpun dikendalikannya dengan gesit

Terbanglah ketiga layangan itu. Meliuk-liuk di udara. Dodit secara agresif berusaha memutuskan layangan Roni. Namun terhalang oleh layangan Susi yang terhempas angin kencang secara tiba-tiba. Kedua layangan itu nyaris bertabrakan dan hancur rusak di langit, tapi Dodit dengan gesit mengendalikan manuver layangannya. Susi selalu bermain aman. Ia tidak pernah mau merusak layangan imutnya. Tapi selalu saja gagal karena biasanya Eri dengan tega memutus layangan Susi. Sementara itu Roni terus mengulur talinya agar layangannya menjadi yang tertinggi di antara semuanya.

Di tengah asyiknya mereka berebut posisi tertinggi dan menghancurkan lawan. Tiba-tiba Susi menjerit. Jeritannya sangat mengejutkan karena begitu keras dan memekakkan telinga. Susi terkejut bukan main ketika layangan yang dijaganya tiba-tiba diputuskan begitu saja. Namun jeritannya menjadi tanda tanya karena tidak ada satupun layangan berwarna merah dan hitam berekor yang begitu besar sebelumnya.

Layang-layang merah-hitam itu kemudian dengan ganas menabrak layangan Dodit. Dodit berteriak kesal karena naga kebanggaannya hancur berantakan dan layang-layang itu terbawa angin. Seolah-olah belum puas, layang-layang merah-hitam itu melesat ke atas, membelit bolah layang-layang Roni dan kemudian.. Tsss! Putuslah layang-layang Roni. Namun kekesalan mereka disusul dengan keheranan. Dari mana layang-layang itu berasal. Mereka mengamat-amati layang-layang itu dan berusaha melihat ke arah mana pangkalnya. Bolah itu menuju ke arah halaman kecil di balik rumah Eri. Penasaran, kelima bocah itu menelusuri dari mana datangnya layang-layang itu.

Mereka berlari dan kemudian mendapati seorang kakek tua. Kurus. Dengan keriput yang tampak begitu jelas di wajahnya. Tampak dengan santai menarik-ulur layang-layang merah-hitam itu. Di sebelahnya tergeletak dua gentong kerupuk. Melihat anak-anak itu datang, si kakek penjual kerupuk tersenyum.

“Ke sini nak! Kakek ajari cara menerbangkan layang-layang dengan benar supaya kalian menang terus!” ajak kakek itu.

Yang tersisa dari sore itu hanyalah ketiga layang-layang yang menyangkut di dahan pohon nangka. Layang-layang polos, layangan naga sobek, dan layang-layang berawarna pink-ungu. Tidak lama kemudian, layangan berwarna merah-hitam menyusul ketiga layang-layang itu. Seolah-olah dinanti, akhirnya keempat layang-layang itu terus tersangkut di dahan pohon nangka. Dalam diam. Dalam sunyi. Dan dalam tangis orangtua mereka.

Hingga akhirnya.. waktu benar-benar melenyapkan keempat layangan itu…

Baca juga:

 

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

12 + 1 =