Love in School

Malam ini cukup dingin. Belum lagi ketika angin berhembus begitu kencangnya. Agnes sedang berjalan di tengah lorong sepi menuju rumahnya. Agnes mendekap tubuhnya erat-erat karena malam ini terlalu dingin. Jauh lebih dingin dari biasanya. Hoodie pink yang ia kenakan ditutupnya rapat, seolah-olah memastikan bahwa tak akan ada satu hawa dingin pun yang akan menembusnya.

Earphone yang ia kenakan sedari tadi beberapa kali ia betulkan posisinya. Menjaga agar telinganya juga tak kedinginan. Sepanjang jalan ia mendengarkan lagu kesukaannya. Tapi di tengah keasyikannya menikmati playlist dari ponselnya itu, Agnes tiba-tiba harus mengernyitkan kening karena membaca sebuah kabar yang mengejutkannya.

Baca juga:

 

“Ah… apa-apaan sih ini? Tugas lagi?! Ditambah ulangan?! Hufff… aku merasa pak Han sudah keterlaluan terhadap murid-muridnya! Ia juga memaksaku membuat lagu untuk diikut sertakan dalam kompetisi. Aaaarrggghhh!!! Ingin rasanya kubakar seisi sekolah!” keluhnya setelah mengecek grup percakapan kelasnya yang mendadak heboh ketika salah satu kawannya memberikan informasi dadakan dari pak Han.

Bukan tanpa alasan Agnes mengeluh dan marah. Hari ini saja ia harus berada di sekolah hingga larut malam karena banyaknya tugas yang harus ia kerjakan bersama kawan-kawannya. Belum lagi masih ada pekerjaan rumah yang harus ia kerjakan ketika sudah sampai di rumah. Bukannya beristirahat, ia masih harus belajar untuk ulangan pak Han esok hari.

TING!

Belum selesai kesalnya karena begitu banyak pemberitahuan percakapan yang muncul, Agnes dikejutkan dengan pemberitahuan pesan singkat yang muncul di ponselnya. Fitur pesan singkat sudah lama tak ia kenakan. Seperti kebanyakan remaja seumurannya, jauh lebih irit menggunakan aplikasi percakapan dibandingkan pesan singkat. Tapi, suatu hari, ia mendapatkan beberapa pesan singkat yang berulang kali dikirimkan dari satu nomor yang sama. Bukannya memblokirnya, ia justru meneruskan percakapan dengan ‘laki-laki tak dikenal’ tersebut karena menarik.

Dibacanyalah pesan singkat itu…

Sepertinya aku bisa membantumu.

“Aish… Sudah kuduga dia lagi… Mau apa sih?! Menggangguku terus. Lagipula, bagaimana dia bisa mendapat nomorku?”

Terima kasih. Tapi maaf, aku nggak kenal kamu. Aku juga nggak pernah bertemu denganmu dan nggak tahu seperti apa dirimu.

TING! Pesan itu dibalas dengan begitu cepat.

Kalau gitu, ayo bertemu besok! Aku akan menunggumu di sini. Ah iya, harusnya seorang gadis sepertimu jangan jalan sendirian hati-hati karena jalan ini sepi dan gelap.

Agnes menghela napas. Di sini?! Antara kesal dan penasaran. Ingin rasanya tak membalas pesan itu dan mempercepat langkahnya. Tapi entah mengapa jarinya masih saja bersua dengan layar sentuh, menulis serangkaian kalimat.

Bertemu denganmu? Wujudmu seperti apa saja aku nggak tau. Salah-salah nanti malah kamu culik!

Sudah ya! Kalau gini terus pulsaku bisa habis. Dan satu lagi aku nggak takut apapun kecuali kecoak terbang! 

Setelah mengirim pesan itu, ia bergegas ke rumahnya dengan langkah yang jauh lebih cepat. Nyatanya, Agnes tetaplah gadis normal yang tak akan hanya berjalan santai di sebuah lorong gelap sendirian. Apalagi setelah mendapatkan pesan semacam itu.

Sementara itu, dari kejauhan Yoongi menyeringai sambil mengawasi Agnes yang semakin cepat melangkah meninggalkannya.

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!