Beranda Cerpen Teman Bibi Dian

Teman Bibi Dian

0
BERBAGI
Teman Tante Dian (bag 1)
Teman Tante Dian (bag 1)

Sudah dua tahun ini aku tidak bertemu kakakku. Kabarnya kakakku dan suaminya sekarang mengontrak di sebuah rumah kecil di Sleman. Sleman itu di Yogya kan? Hmm.. tidak ada salahnya aku mengunjungi kakakku sambil berkeliling Yogya.

Suami kakakku adalah seorang pembuat manekin. Mereka berdua merantau dari Sumatera ke Yogya karena merasa Yogya membutuhkan banyak manekin, mengingat makin banyak distro yang dibangun di Yogya.

Rasanya aneh kalau dulu Yogya dibilang kota kenangan yang khas akan kuliner malamnya yang serba murah dan jalanan yang sepi. Kini sepanjang jalan kabarnya berderet-deret distro dan kafe mahal bersaing untuk mendapatkan pelanggan dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Benarkah Yogya seperti yang dikatakan banyak orang? Tempat yang penuh kenangan?

Baca juga:

 

Membayangkan Yogya seperti apa saat ini ibarat membayangkan kue pastry gaya baru yang marak dijual para artis. Seolah-olah menawarkan pembaharuan, tapi sebenarnya hanya namanya saja yang diganti. Didukung gaya pemasaran yang meyakinkan tentunya. Menghilangkan orisinalitas sesungguhnya dan menawarkan orisinalitas palsu.

Ah tapi sudahlah.. tak ada gunanya memikirkan kelatahan yang menjadi-jadi macam ini. Toh sebenarnya kisahku ini kisah misteri, bukan kisah kritik-sosial.

Banyak manekin terpanjang di rumah kakakku
Banyak manekin terpanjang di rumah kakakku

Baiklah penulis. Silahkan lanjutkan kisahku. Maafkan tokoh buatanmu yang suka seenaknya ini. Sekarang giliranmu.

Maka niatku mengunjungi Yogya terlaksana. Aku mengunjungi kakakku. Di sebuah kampung pinggir kota. Jika kamu membayangkan kampung dengan sawah dan binatang ternak yang banyak, maka kamu salah. Mungkin kamu akan menemui itu kalau berwisata ke kampung Kulonprogo. Tapi ini sebuah kampung yang ada di selatan selokan mataram daerah Jalan Monjali. Orang-orang menyebut daerah ini Karangjati.

Rasanya daerah Sleman maupun Yogya kota tidak ada lagi kampung yang benar kampung, desa yang benar desa. Hiruk pikuknya tidak lagi menandakan kamu akan mendengarkan suara jangkrik dengan tenang. Namun kakakku beruntung, menemukan lokasi yang strategis dekat dengan kota. Namun tidak terganggu oleh hiruk pikuk lalu lintas dari jalan raya. Jadi malam hari akan terasa tenang, kecuali sesekali motor tua tetangga yang bunyinya kerontangan memekakkan telinga. Bunyi motor Honda GL tua. Bapak dan anak itu menggunakannya. Sungguh-amat-sangat-mengganggu. Untung saja mereka hanya melintas kalau pulang atau berangkat kerja.

Kakakku tinggal di sebuah rumah standard. Berlantai satu. Lantainya masih berupa tegel warna hitam. Jadi kalau melepas alas kaki akan terasa debu menempel di seluruh permukaan kaki. Catnya agak suram. Warna krem bukan. Pink juga bukan. belum lagi ditambah perpaduan warna hijau nyentrik yang tidak cocok sama sekali.

Beruntungnya, untuk hidup bertiga bersama anaknya, kakakku tidak perlu khawatir karena kamar-kamarnya cukup luas. Kamar tidur ada 2. Tapi aku yakin, kakakku, suaminya, dan anaknya tidak akan pernah berpisah. Pasti mereka memilih tidur bertiga ketimbang tidur berdua dengan meninggalkan anaknya di kamar satunya.

Ruang depan juga cukup luas. Kakak iparku menggunakan spasi itu untuk meletakkan manekin-manekinnya. Beberapa peralatan pembuatan manekin juga diletakkan di sana. Dapurnya dekat dengan kamar mandi. Sayangnya, sepertinya kakak iparku tidak tahu-menahu cara memperbaiki saluran pembuangan air di sini. Karena tersumbat, jadi dapur dan kamar mandi cukup bau. Membuatku mual setiap kali ke sana.

Dari hasil penjualan manekinnya sejauh ini, kakak iparku bisa membeli sebuah mobil mungil berwarna merah. Itupun dibeli bukan tanpa alasan. Untuk mempermudah akomodasi pesanan manekinnya. Mengantar dengan motor tentu saja akan sangat merepotkan. Terus-terusan menyewa kendaraan tentu saja cukup merugikan karena biayanya cukup tinggi saat ini.

Tapi sayangnya, sepertinya penjualan manekin kakak iparku agak menurun, sehingga harus menjual mobil mungil itu. Sementara ini, belum laku. Tapi tulisan “DIJUAL” beserta nomor telepon kakak iparku masih ditempel di kaca jendela belakang mobil itu.

Baca juga:

 

Setiap pagi kakakku dan suaminya pergi mengantar anaknya ke sekolah dan setelah itu langsung mengantarkan manekin yang telah di pesan ke pelanggan. Alhasil, di rumah aku sendirian. Daripada aku sendirian, lebih baik melaksanakan rencanaku untuk menjelajahi Yogyakarta sendirian. Dengan modal nekat (dan uang saku tentunya), aku memilih menggunakan Transjogja.

Halte Transjogja tidak begitu jauh dari sini. Hanya sekitar 200 meter dari rumah. Paling tidak kalau berjalan kaki hanya membutuhkan waktu 3-5 menit. Cuaca hari ini pun lumayan cerah, jadi amat sangat disayangkan kalau aku tidak memanfaatkannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here