Paranoid
Paranoid

Paranoid adalah sebuah cerpen misteri fiksi. Silahkan membaca dan menikmati setiap teror yang dibawakannya. Dan jangan lupa untuk share mini novel ini jika kamu menyukainya! Selamat membaca! 

—————————————————————————————————–

“Bapak habis ngelayat?” tanyaku kepada Bapak yang baru saja memasuki rumah. Ia tadi pagi tergesa-gesa keluar setelah menerima telepon dari seseorang. Saat ini sudah jam 1 malam. Bapak baru pulang dengan wajah kelelahan.

Bapak berhenti sejenak di ambang pintu ruang tamu lalu menjawab, “Bukan hanya nglayat, tapi juga dimintai keterangan sama polisi.”

“Polisi?” tanyaku hanya mengulang satu keterangan pelaku yang muncul di akhir kalimat bapakku.

“Masih ingat Pak Hanu?” tanya Bapak saat ia duduk dan mulai menyalakan televisi.

“Masih. Pak Hanu yang meninggal?” tanyaku tapi tak dihiraukan oleh bapak. Ia sibuk memindah-mindah saluran televisi.

“Ternyata sudah jadi berita nasional.” Ujarnya masih tak menjawab pertanyaanku. Kulihat siaran berita yang terpampang di layar televisi. Sebuah berita malam khas yang penuh dengan berita kasus kasar dan tak manusiawi. Kubaca headlinenya.

KASUS PEMBUNUHAN OLEH KELUARGA

“Jangan bilang …” ucapku ragu.

“Iya, Pak Hanu dibunuh anaknya sendiri.” Jelas Bapak.

“Kenapa?!”

“Bapak juga sempat tanya. Anaknya nggak pergi ke mana-mana setelah membunuh. Diamankan warga.” Jelas Bapak.

“Terus?”

“Kata anaknya, dia nggak suka aja sama Bapaknya.” Jelas Bapak sambil mengusap wajahnya. Tampak kelelahan dan mungkin … sedikit takut?

Bapak melihat ke arah salah satu kamar di rumah kami. Pintunya terbuka. Jika dilihat dari ruang tengah, akan terlihat kaki seseorang. Itu adalah adikku yang tidur di kamarnya. Sudah jelas Bapak tampak mengkhawatirkan adikku.

“Bapak tidak pernah sekalipun mengajarkan kekerasan pada kalian. Jadi semua akan aman.” Ucapnya lalu mematikan televisi, beranjak pergi, dan bersiap mandi.

Aku tidak mengatakan apapun. Kami sekeluarga sudah terbiasa dengan kenyataan ini, bahwa adikku, dan juga anak Pak Hanu, adalah seseorang yang menurut kami “memiliki bakat lain”. Ya, mereka berdua sama-sama anak dengan autisme. Itulah sebabnya Bapak dan Pak Hanu besahabat karib. Yang membedakan adalah, adikku ini tidak “separah” anak Pak Hanu dan lebih dikontrol oleh bapak. Terutama dalam menyaksikan segala bentuk kekerasan. Bahkan hanya sedikit yang tahu bahwa adikku adalah penyandang autisme saking tidak kentaranya.

Yang tidak bapak ketahui, karena jarak usiaku dengan adikku terpaut agak jauh, aku masih tidak dapat menerima segala kekurangannya di masa kecilku. Tak jarang aku menyudutkan dan mengejeknya. Sesekali aku pukuli karena aku jengkel dengan tingkahnya yang aneh. Aku juga kerap mengejeknya dengan ucapan “bego”, “pemalas”, “idiot”. Saat ia dirundung oleh teman-teman sekolah, aku hanya membiarkannya. Pernah ada satu saat dia memanggil-manggil namaku ketika dikepung banyak preman sekolah, tapi aku diam saja. Dia melihatku hanya berdiri diam dari kejauhan. Aku hanya puas melihatnya dipukuli beramai-ramai.

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

seventeen + nineteen =