Ketika Kawan Lama Menemani Perjalananku, Perubahan yang Ia Alami Begitu Banyak Termasuk ...
Ketika Kawan Lama Menemani Perjalananku, Perubahan yang Ia Alami Begitu Banyak Termasuk ...

Dalam perjalanan kembali, kami lebih banyak diam dan menikmati pemandangan sekitar dan sejuknya pagi hari.

“Tik.. Aku minta doamu ya?” ujar mas Yon memecah keheningan.

“Pasti mas. Aku doakan, semoga rezekinya lancar, hidup bahagia.” ujarku.

“Tapi, aku minta kamu doakan aku supaya selamat akhirat juga ya Tik? Ya aku ini kan juga manusia yang banyak dosa. Kita juga nggak tahu kan kapan kita bisa ketemu lagi. Siapa tahu, ini malah jadi pertemuan terakhir kita.” jawab Mas Yon sambil sedikit tertawa.

“Halah.. Mas itu ngomong apa? Ya jangan kayak orang sudah mau mati gitu lah! Lha wong sepedaan aja masih bisa jauh kok!” jawabku sambil mendorong bahu Mas Yon.

“Sudah Tik. Pokoknya doakan lho ya?” pinta Mas Yon sambil menunjukku.

Aku berhenti berjalan. “Ya pokoknya tak doakan. Mas Yon juga harus doakan aku!” ujarku sambil tersenyum.

Dia melambaikan tangannya, tapi mengapa rasanya sesak sekali?`
Dia melambaikan tangannya, tapi mengapa rasanya sesak sekali?

Kami akhirnya sampai pada tempat kami bertemu tadi. Aku mengucapkan salam perpisahan kepada Mas Yon. Dia hanya tersenyum dan melambai kepadaku. Lalu aku berjalan pulang.

Jam 7 pagi aku belanja di tukang sayur langganan dekat rumah. Seperti biasa, aku juga bertemu tetangga sekaligus teman sekolahku dulu, Tari. Tari juga kenal Mas Yoyon pastinya, maka aku ceritakan pertemuanku dengan Mas Yon yang baru saja terjadi.

Tari hanya diam mendengarkanku. Lalu bertanya, “Tik.. Mas Yon yang kamu ceritakan itu Mas Yon mana?”

“Ya Mas Yon kakak tingkat kita dulu!” jawabku.

“Yakin Tik?” tanyanya lagi.

“Ya yakin lah.. Memang kenapa?” tanyaku heran.

“Kamu nggak tahu?” wajah Tari kini serius. “Mas Yon sudah meninggal tiga hari yang lalu. Pas dia istirahat di dekat jembatan Kronggahan, dia kena serangan jantung.”

Aku langsung merinding. Mas Yon sungguh-sungguh minta doaku tadi.

Sejak saat itu lah, aku tidak pernah lagi berani jalan sendirian di pagi gelap. Aku takut, kawan-kawanku yang lain akan menemaniku juga.

Kamu suka menulis? Pingin tulisanmu dibaca banyak orang dan mendapat banyak masukan dari kami agar makin berkualitas? Kamu bisa daftar jadi anggota BacaSajalah dengan klik link ini! Jangan lupa cek inbox/ spam box kamu dalam waktu 5 menit setelah kamu melakukan pendaftaran!

Baca juga:

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

eighteen − twelve =