Cerita Horror Nyata - Jaran Goyang Maya
Cerita Horror Nyata - Jaran Goyang Maya

Cerita Horror Nyata Jaran Goyang Maya ini berdasarkan kisah nyata. Semua nama yang terlibat di sini sudah tersamarkan. Mohon kebijakannya sebagai pembaca dalam menyikapi apa yang terjadi pada kisah ini. Tetap waspada dan rajin berdoa, karena cerita ini akan mengisahkan tentang ajian Jaran Goyang.

Ini cerita dari kakaknya temanku. Benar-benar kejadian dan bikin aku nggak habis pikir.

Sebuah kisah nyata yang melibatkan cinta terlarang dan hal magis. Yang kemudian berujung bencana rumah tangga.

Pasti tahu lah kalian arahnya ke mana.

Seperti biasa, nama dan mungkin hal-hal berkaitan dengan pekerjaan dan tempat kejadian akan aku samarkan untuk melindungi orang-orang yang ada di sini.

Kalau seandainya kalian mengetahui kasus ini sendiri, harap untuk tutup mulut saja. Karena sangat sensitif isu ini di masyarakat.

“Aku” setelah paragraf ini, merupakan sudut pandang dari Kakaknya temanku ya! Semoga bisa mengikuti.

Sebut saja Tina, salah seorang karyawan swasta di Yogyakarta. Sudah punya 2 anak. Suaminya bekerja di luar pulau. Jarang pulang.

Lalu ada Maya, seorang wanita yang tidak jelas asal-usulnya. Bagaimana ia kenal dengan Tina tidak ada yang tahu.

Yang jelas, Tina mengaku kalau Maya ini adalah ojek langganannya. Karena Tina memang tidak bisa mengendarai motor. Sementara tidak ada suami yang bisa mengantar tiap hari.

Semuanya berjalan lancar. Tidak ada yang aneh. Sampai suatu ketika, kami menyadari sebuah kejanggalan.

Di tempat kerjaku, karena karyawannya sedikit, kami punya kebiasaan untuk menggeletakkan handphone sembarangan dengan layarnya menghadap ke atas. Seolah-olah tidak ada rahasia di antara kami.

Jadi semisal, ada orang yang menelepon salah satu teman kami, kita akan tahu itu dari siapa. Tak jarang juga kami tidak akan segan untuk me-loud-speaker pembicaraan kami.

Tina biasanya kalau menaruh telepon, akan menghadap ke atas. Jadi kami akan tahu kalau-kalau suaminya menelepon, atau anaknya sedang butuh bantuan untuk mengerjakan PR.

Tapi belakangan ini, Tina selalu menutup teleponnya. Bahkan kalau ada yang telepon, dia akan berlari keluar. Tak ingin pembicaraannya didengar orang lain.

Kami tidak keberatan dengan itu. Toh emang orang punya privasinya.

Tapi lama-kelamaan, sebagai perempuan, kami jadi menaruh curiga kalau Tina berselingkuh.

Sampai suatu ketika, Tina tak lagi menaruh hapenya dengan tertutup. Entah apa tujuannya. Apakah kini dia sudah tobat, atau sudah open public dengan apa yang ia lakukan.

Tapi kami semua terkejut. Ketika kami melihat seseorang menelepon Tina. Di kontak tertulis “Ayah”. Tapi …

“Itu foto Maya kan?” kata temanku setengah berbisik kepadaku. Aku mengangguk.

“Mungkin salah tulis?” tanyaku. Tapi temanku juga jadi bengong.

Sekedar informasi, Maya memang perempuan yang tomboy. Perawakannya besar seperti laki-laki dan dipotong cepak.

Hari-hari berlanjut. Tina benar-benar tidak pernah menutup-nutupi apa yang ada di handphonenya. Entah apa yang ada di pikirannya.

Tapi di pikiran kami, kami benar-benar bingung. Telepon yang datang dengan foto Maya terus menerus berganti nama. Kadang “Ayah”, kadang jadi “Papa”, kadang jadi “Sayang”.

“Sayang?!” temanku seolah nggak percaya dengan apa yang ia lihat. “Masa … ?” dia terdiam. Tapi kemudian dia berusaha berpikir positif. Mungkin cuma bercanda kali ya?

Tak berhenti di situ. Tina lagi-lagi membuat geger kantor.

“Tina pernah minjam uang ke kamu nggak?” tanya temanku.

“Mmm.. pernah sih. Tapi karena nominalnya lumayan, aku jadi nggak bisa minjamin.” jelasku. Temanku tampak berpikir.

“Emang dia pinjam berapa?” tanya temanku penasaran.

“Berapa ya? Ya 5 juta kalau nggak salah?” temanku melotot. Kemudian dia mendekatiku, dan mulai berbisik.

“Tahu nggak? Tina ternyata pinjam beberapa orang. Ada yang sampai minjemin 15juta!” aku terkejut bukan main.

“Hah?! Tahu dari mana? Dia ada masalah apa sih?” tanyaku heran.

“Gatau, tadi ada orang nyariin Tina. Tina kan shift malam, ya aku bilang kalau Tina belum masuk. Katanya dia mau nagih utang. 15 juta gitu katanya. Terus katanya baru dari rumah Tina, si Tina nya gak ada.” jelas temanku.

Aku merasa prihatin dengan keadaan Tina. Apa suaminya sekarang sudah dipecat? Kenapa Tina tiba-tiba butuh uang sebanyak itu?

Setahuku Tina bukan orang yang akan meminjam uang kalau darurat. Dia memiliki suami dengan pekerjaan yang sangat layak. Rumahnya pun terbilang bagus dibandingkan kami yang karyawan biasa ini.

Malamnya Tina, masuk shift seperti biasa. Tidak ada yang benar-benar ingin membahas masalah yang Tina hadapi.

Satu hal lain yang berubah selain Tina adalah, Maya. Maya yang biasanya hanya akan antar-jemput Tina, sekarang suka tiba-tiba datang di tengah jam kerja. Lalu mengobrol lama dengan Tina.

Sampai-sampai bosku sendiri datang, lalu menegur Maya. “Mbak Maya, Mbak Tina ini lagi kerja lho ya! Mohon untuk tidak berkunjung saat jam kerja.” kata bosku.

Lucunya, walau sudah ditegur berulang kali, Maya tetap saja datang di tengah jam kerja dan menemani Tina dengan setia.

Sampai suatu hari … Suami Tina datang ke kantor dan mengamuk.

Tapi yang membuat geger satu kantor bukan hanya amukan sang suami.

“INI APA?!” tanya suami Tina sambil melemparkan sejumlah buntalan kain ke meja Tina. Semua langsung merinding melihat empat buntalan tersebut.

“Itu kain kafan kan?” tanya temanku ketakutan.

Usut punya usut, suami Tina baru saja pulang dari dinas. Lalu merasa ada yang aneh dengan rumahnya. Lalu ia menemukan buntalan kain ini di setiap sudut rumah mereka.

Ada yang berisi tanah, asumsiku tanah kuburan. Ada yang berisi kembang. Ada yang berisi paku. Ada yang berisi sesuatu yang aku asing dengan itu.

Tina tampak kebingungan dengan amukan suaminya. Dia sepertinya juga tidak tahu-menahu soal buntalan kain itu.

Akhirnya Tina dibawa paksa oleh suaminya untuk pulang.

Tapi kejadian hari itu seolah menyingkap alasan hal-hal janggal lain yang pernah terjadi.

Temanku pernah memergoki Tina mencium tangan Maya. Seolah mereka adalah pasangan suami-istri.

Mereka juga pernah tertangkap basah sedang pangku-pangkuan sambil mengobrol, begitu mesra seperti dua orang yang sedang dalam asmara.

Tidak ada yang menegur karena, kadang, melihat perempuan melakukan hal itu seperti wajar nggak sih? Beda kalau kamu lihat dua orang pria sedang pangku-pangkuan.

Tapi yang menjadi tidak wajar adalah ketika Maya memanfaatkan situasi yang ada. Terungkap kalau rupanya Tina berhutang pada banyak orang demi membayar cicilan motor dan handphone Maya.

Belum berhenti di situ, betapa terkejutnya sang suami ketika tahu kalau rumahnya sudah akan disita bank karena tunggakan hutang ratusan juta rupiah dari Tina. Yang entah ke mana dan untuk apa.

Beberapa tetangga Tina juga menyaksikan, kalau Maya sering menginap di rumah Tina. Lalu berlaku bak seorang kepala keluarga. Menyuruh-nyuruh Tina untuk melakukan segala hal. Sementara Maya hanya makan-tidur tidak jelas.

Hingga akhirnya, suami jatuh pada keputusan untuk menceraikan Tina. Tina menggugat balik dengan tuduhan, “Suami tidak pernah menafkahi.”

Betapa murkanya sang suami, karena setiap bulan ia dengan setia mengirim uang kepada Tina dan entah ke mana semua uang itu raib.

Sampai akhirnya, karena kantor juga beberapa kali menerima telepon dan bahkan didatangi oleh debt collector, Tina dipecat.

Lalu, suatu hari …

Tina menghilang. Tak membawa apapun.

Kedua anaknya ditelantarkan.

Tidak ada kabar lagi darinya. Maya pun menghilang sejak suami Tina murka.

Entah apa yang terjadi dengan mereka saat ini.

Banyak yang berkata bahwa Tina terkena ajian Jarang Goyang.

Jaran goyang biasa dipakai untuk tujuan yang jahat. Membuat seorang tergila-gila, lalu pelaku akan menyikat habis semua harta yang korban miliki.

Tapi korban tidak akan keberatan dengan itu. Bahkan akan terus berusaha untuk memberikan lebih.

Persis seperti apa yang Tina lakukan. Hanya saja.. aku baru tahu, kalau jaran goyang pun bisa berefek untuk sesama jenis.

Akhir dari cerita horror nyata – Jarang Goyang Maya

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

two × five =