Beranda Cerpen Ketika Kawan Lama Menemani Perjalananku, Perubahan yang Ia Alami Begitu Banyak Termasuk...

Ketika Kawan Lama Menemani Perjalananku, Perubahan yang Ia Alami Begitu Banyak Termasuk …

0
BERBAGI
Ketika Kawan Lama Menemani Perjalananku, Perubahan yang Ia Alami Begitu Banyak Termasuk ...
Ketika Kawan Lama Menemani Perjalananku, Perubahan yang Ia Alami Begitu Banyak Termasuk ...

Jam 4 pagi.

Seperti biasa. Aku terbangun di jam ini.

Biasanya pula, segera kuganti pakaianku, mengambil sandal, lalu memulai jalan santaiku di pagi yang masih gelap ini.

Sudah 10 tahun lebih aku punya kebiasaan jalan ini. Dari rumahku di Cebongan, sampai Kronggahan, lalu kembali lagi. Ya hanya dalam jarak pendek sih. Tapi setidak-tidaknya, sebagai wanita paruh-baya, aku bisa mengantisipasi gejala osteoporosis yang pada umumnya terjadi.

Hanya saja, aku memilih berhenti ketika aku bertemu kawan lamaku di jembatan Kronggahan.

Sudah 30 tahun lamanya aku tidak bertemu dia. Saat itu sudah jam 5 pagi. Kulihat dia berdiri di pinggir jalan. Menatapku. Lalu tersenyum.

“Tik! Titik!” panggilanya kegirangan.

Awalnya aku tidak menyadari siapa itu. Bagaimana tidak? Siapa yang tidak pangling bila bertemu kawan lamanya yang sudah 30 tahun tidak bertemu?

“Mas Yon?” tanyaku setengah terkejut. Terheran-heran sedang apa dia di sini.

“Iya! Ini aku, Yoyon.” katanya sambil tertawa. “Lagi jalan sehat Tik?” tanyanya.

“Iya mas.. Lha mas Yon kok di sini?”tanyaku.

“Sambil jalan aja deh aku ceritain.” jawab Mas Yon menenemani jalan pagiku ini.

Baca juga:

 

“Aku tadi kebetulan lewat aja di sini. Naik sepeda. Terus capek. Ya aku berhenti sebentar. Lha, tiba-tiba kok lihat kamu Tik. Udah lama nggak ketemu ya? Sehat kan?”

“Lha ini..?? hehehehe… Mas Yon dari mana sepeda’annya?” tanyaku.

“Dari Beringharjo. Ambil beberapa barang di sana, terus ini tadi mau pulang ke Godean.” jawabnya

“Kok jauh banget? Dari Godean ke Beringharjo terus balik lagi? Ambil apa emang?” tanyaku heran.

“Ada lah…” Mas Yon tersenyum pilu. “Buat hidup sehari-hari.”
Melihat senyum pilunya itu aku tahu kalau hidupnya sedang dalam permasalahan. Tapi aku lebih memilih diam. Keluargaku sendiri hidup pas-pasan. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah menemaninya bercerita sampai aku selesai jalan pagi ini.

Kami terus mengobrol selama perjalan. Seringkali nostalgia yang kami obrolkan, sesekali canda yang kering, sesekali juga semangat yang tersirat dari kisah-kisah kami ketika masih muda dulu. Tak terasa, aku malah berjalan lebih jauh dari biasanya. Mengetahui itu aku mengajak Mas Yon berjalan kembali ke arah kita bertemu sebelumnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here