Beranda Mini Novel Don’t Forget to Remember Me – end

Don’t Forget to Remember Me – end

0
BERBAGI
Don't Forget to Remember Me - end
Don't Forget to Remember Me - end

Aku terbangun karena terdengar suara kicau burung. Daun-daun berguguran menutupi wajahku. Kepalaku pusing tujuh keliling. Aku bertanya-tanya, mimpi apa aku ini? Aku terduduk, kemudian melihat status di depanku. Seorang pahlawan desa bernama Gamuruh. Bagaimana bisa aku bermimpi seperti itu?

Sebelumnya dalam Akhir dari Kisah Gamuruh, Sang Pahlawan Desa

Tapi kemudian aku menyadari bahwa semua yang kualami bukanlah mimpi, ketika aku melihat pakaianku yang sama persis dengan pria yang terpahat itu.

Berapa lama aku menghilang? Berapa lama aku di sana?

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang terhenti. Aku berbalik.

“Kinkin?” ucapku kepada sesosok wanita yang sebenarnya sudah lama kukenal.

“Kamu ingat?” ucap wanita itu terbata-bata.

Kinkin yang kutemui saat ini bukanlah Kinkin yang dulu. Ia sudah bertambah tua. Hampir menginjak usia 50 tahun. Tapi kecantikannya masih tetap saja ada.

Wanita itu kini menangis dan bingung. Aku pun bingung harus bagaimana. Apapun yang kulakukan akan jadi serba salah setelah ini.

“Jadi.. apakah Nana anak kita?” tanyaku kepada Kinkin. Kinkin kini semakin tersedu-sedu, tapi berusaha menenangkan diri.

“Bukan. Itu anakku dengan Anam.” ucapnya terbata-bata.

Aku berdiri. Kemudian aku berjalan menuju Kinkin. “Maafkan aku.” dan Kinkin kini makin terisak.

“Sudah berapa lama aku pergi?” tanyaku.

“Kamu tadi berpamitan untuk olahraga. Sementara Nana mandi. Dan seperti biasa, setelah memasak aku selalu ke sini. Lalu melihatmu terduduk dengan pakaian ini.” jelasnya.

 

Baca juga:

Ketinggalan dengan awal mulanya mini-novel ini? Mulai dari sini: Don’t Forget to Remember Me – Part 1

 

“Jadi aku baru beberapa jam pergi?” tanyaku. Kinkin hanya mengangguk.

“Apa yang terjadi setelah itu?” tanyaku lagi.

“Desa menjadi aman. Sangat damai hingga bisa maju seperti sekarang. Raya dan anak buahnya tak pernah muncul lagi. Tapi yang aneh, baik aku, ayah, Anam, dan seluruh warga desa perlahan-lahan mulai kehilangan kenangan akan dirimu. Menyadari itu, aku mendesak Anam untuk membuat status berukir dirimu tepat di tempat kamu menghilang. Di hari setelah status ini jadi, kami kembali ke desa. Dan setelah itu kami tiba-tiba lupa akan itu semua dalam semalam. Kemudian Anam tiba-tiba melamarku dan kami menikah. Sementara sepanjang hidupku aku merasa ada yang hilang. Beberapa bulan ini kenangan itu kembali tiba-tiba. Tapi sepertinya dirimu memang tidak tahu apa-apa.” cerita Kinkin.

“Bagaimana dengan Anam? Apakah dia ingat?” kini aku berjalan dengan dibantu Kinkin.

“Sepertinya tidak. Karena bulan-bulan ini hanya aku yang terus mengunjungi tempat ini.” ujar Kinkin.

“Aku harus berbuat apa dengan Nana?” tanyaku. Kini aku yang tiba-tiba saja terisak. Kenangan rasa cintaku kepada Kinkin dan Nana yang bercampur aduk, dan semua relasi yang muncul membuatku sangat kebingungan.

Kinkin terdiam. Ia tampak berusaha menegarkan hatinya.

“Nak. Aku kini berbicara sebagai ibu Nana, bukan Kinasih. Mari abaikan semua masa lalu kita, dan jangan keceawkan Nana.” ujarnya tegas.

“Mungkin kita memiliki masa lalu sebagai sepasang kekasih. Tapi itu dulu. Dan itu terjadi karena ketidaktahuan kita berdua. Jadi kumohon, jangan tinggalkan Nana hanya karena aku Kinasih yang kau cintai di masa lampau.” kini Kinkin mengusap rambutku, sama persis seperti ia di masa lalu.

“Jangan menangis! Kamu tak seperti Gamuruh yang kukenal!” Kinkin lalu mengusap air mataku.

“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan kekuatanmu? Apa kamu masih memilikinya?” sambungnya.

“Entahlah. Merasakan tubuhku yang lemas dan tidak seenergik dulu sepertinya menandakan bahwa kekuatanku hilang di saat terakhir kali memusnahkan Raya.” jelasku.

“Itu jauh lebih baik. Dunia sekarang tidak begitu membutuhkan manusia dengan pembangkit tenaga listrik.” gurau Kinkin.

Pada akhirnya, kami berdua memang memiliki masa lalu yang indah. Tapi di masa kini semua telah berubah. Kinkin tetaplah Kinkin, dan aku adalah aku. Kami sudah memiliki jalan hidup masing-masing. Setelah beberapa bulan, akhirnya aku dan Nana menikah. Aku bukanlah Gamuruh lagi, pahlawan desa dan kekasih Kinasih. Aku adalah pengusaha dan suami dari Nana.

Tapi tetap saja..

Anak-anakku selalu menyukai dongeng Gamuruh yang dikisahkan neneknya.

 

Baca awal mula mini-novel ini di Don’t Forget to Remember Me – Part 1

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here