Berkunjung ke Rumah Mbah Kung dan Si Mbok
Berkunjung ke Rumah Mbah Kung dan Si Mbok

Mini Novel “Berkunjung ke Rumah Mbah Kung dan Si Mbok” masuk dalam kategori misteri. Harap pembaca bijak dalam menyikapi setiap isi cerita dari mini novel ini. Semoga mini novel ini mampu menghibur anda sekalian. Selamat membaca!

——————————————————————————————————

Krik krik krik krik!

“Kamu yakin ini jalannya?”

“Iya yakin mas!”

Suara jangkrik terdengar makin intens sepanjang perjalanan kami mencari rumah Mbah. Semakin masuk ke dalam hutan, semakin gelap gulita pula. Satu-satunya penerangan yang kami miliki hanyalah lampu motor kami.

Oh iya. Ngomong-ngomong, rumah Mbah yang kami cari adalah Mbah dari pacarku. Aku belum pernah ke sini sebelumnya, jadi aku benar-benar tidak tahu arah. Sementara pacarku, baru sekali ke rumah Mbahnya, jadi masih lupa-lupa ingat. Banyak lupanya.

“Lagian kenapa harus semalam ini sih?!”

“Tanya lagi. Ya kan katanya Mbah putri sakit. Kalau bukan kita, siapa lagi yang jenguk dan nganter ke rumah sakit?” Jelas pacarku ketus.

Baca juga:

 

Kira-kira sudah jam 9 malam saat kami memasuki kawasan desa terpencil di Boro. Penerangan minim. Jalan penuh liak-liuk, tanjakan, dan turunan curam. Aku harus beberapa kali memainkan lampu jauh dan pendek. Sampai akhirnya tiba-tiba lampu pendek mati dan seketika gelap menyelimuti kami.

“Mas! Mas!” Seru pacarku yang panik. “Kok jadi gelap?!”

“Sabar. Ini cuma nggak kepencet saklarnya.” ujarku berusaha tenang sambil mengubah saklar lampu jauh kemudian mencoba lagi saklar lampu pendek. Cahaya lampu kembali menerangi jalan kami.

“Makanya jadi orang jangan panikan!” protesku.

“Mas, ini jalan gelap dan sepi. Kiri-kanan tepi jurang. Kalau kita dibegal nggak ada yang tahu. Kalau jatuh pun baru besok orang-orang desa nemuin!” jawab pacarku marah.

via GIPHY

“Iya, iya! Nggak usah berisik! Kamu udah inget belum jalannya?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Sebentar mas.. pelan-pelan.” pinta pacarku. Aku menunggu beberapa menit.

“Heh?! Ke arah mana?! Ini katanya nggak mau dibegal. Tapi kalau jalan selambat ini juga perampok bisa nyusul kita!” teriakku menakut-nakuti pacarku. Pacarku menepuk bahuku dengan keras.

“Sebentar mas! Kamu itu jangan nakut-nakutin to?!” sahutnya panik.

Aku terdiam. Yang sedari tadi memperburuk suasana dia. Kenapa selalu aku yang dimarahi? Dasar wanita!

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

13 + 5 =