18 Prinsip Penulisan Naskah Televisi menurut Morissan (bag 2)
18 Prinsip Penulisan Naskah Televisi menurut Morissan (bag 2)

Memilih kata atau ungkapan konkret

Yang pasti-pasti aja, kayak nasi itu keras kalau nempel di tembok
Yang pasti-pasti aja, kayak nasi itu keras kalau nempel di tembok

Ini biasa digunakan untuk menulis berita. Penggunaan penggambaran yang ‘abstrak’ mengaburkan maksud dari informasi, sebagai contoh “tewas mengenaskan’ dapat diganti ‘tewas di tempat’.

Menggunakan kata yang sudah biasa/ umum digunakan

Biasanya kayak apa? gatau bos! :(
Biasanya kayak apa? gatau bos! 🙁

Hampir sama seperti menggunakan kata yang sederhana, tetapi lebih khusus pada penggunaan kata yang biasa diperdengarkan sehari-hari, seperti tersangka, terdakwa, terpidana, terguggat, dsb.

Menghindari ungkapan yang bias, hiperbol, atau bombastis

Biasa aja kali!
Biasa aja kali!

Metode ini sebenarnya sangat efektif apabila digunakan dalam radio, namun tidak baik ketika diterapkan dalam televisi. Penggunaan kata seperti hancur berantakan, luluh lantak, dsb tidak perlu diucapkan karena gambar telah berbicara lebih banyak.

Sebisa mungkin menghindari singkatan atau istilah teknis birokrasi, yuridis, dan militeristik yang tidak umum

Ini istilah apaan sih ya, ngeselin!
Ini istilah apaan sih ya, ngeselin!

Tidak semua pemirsa memahami istilah-istilah dari bidang tersebut. Jika memang tidak ada pengganti istilah yang ada, maka harus diperjelas dalam naskah, seperti JPU (jaksa penuntut umum), (SPJ) surat perintah jalan, dsb.

Baca juga:

 

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

one × 3 =