Home Edukasi 18 Prinsip Penulisan Naskah Televisi menurut Morissan (bag 2)

18 Prinsip Penulisan Naskah Televisi menurut Morissan (bag 2)

0
SHARE
18 Prinsip Penulisan Naskah Televisi menurut Morissan (bag 2)
18 Prinsip Penulisan Naskah Televisi menurut Morissan (bag 2)

Setelah sebelumnya dengan 6 prinsip penulisan naskah bagian pertama, kini saatnya kita belajar mengenai 6 prinsip penulisan naskah menurut Morissan bagian kedua.

Menggunakan kalimat/kata yang mudah dimengerti

Mudah seperti dandelion yang terhembus angin
Mudah seperti dandelion yang terhembus angin

Ada banyak istilah dalam dunia keprofesian yang tidak bisa dimengerti oleh khalayak pada umumnya. Sehingga penulis harus mengerti betul bentuk sederhana dari kata atau kalimat tertentu. Sebagai contoh adalah ‘identifikasi’ itu dapat diganti dengan ‘menyelidiki’ atau ‘klarifikasi’ menjadi ‘menjelaskan’

Menulis langsung ke pokok persoalan

Langsung aja gausah banyak ba bi bu
Langsung aja gausah banyak ba bi bu

Penjelasan yang terlalul berputar-putar membuat khalayak lelah (kayak janji politisi). Jauh lebih baik jika informasi terpenting langsung disampaikan tanpa perlu adanya penjelasan yang berputar-putar (ingat kaidah 5W+H).

Memilih kata atau ungkapan konkret

Yang pasti-pasti aja, kayak nasi itu keras kalau nempel di tembok
Yang pasti-pasti aja, kayak nasi itu keras kalau nempel di tembok

Ini biasa digunakan untuk menulis berita. Penggunaan penggambaran yang ‘abstrak’ mengaburkan maksud dari informasi, sebagai contoh “tewas mengenaskan’ dapat diganti ‘tewas di tempat’.

Menggunakan kata yang sudah biasa/ umum digunakan

Biasanya kayak apa? gatau bos! :(
Biasanya kayak apa? gatau bos! 🙁

Hampir sama seperti menggunakan kata yang sederhana, tetapi lebih khusus pada penggunaan kata yang biasa diperdengarkan sehari-hari, seperti tersangka, terdakwa, terpidana, terguggat, dsb.

Menghindari ungkapan yang bias, hiperbol, atau bombastis

Biasa aja kali!
Biasa aja kali!

Metode ini sebenarnya sangat efektif apabila digunakan dalam radio, namun tidak baik ketika diterapkan dalam televisi. Penggunaan kata seperti hancur berantakan, luluh lantak, dsb tidak perlu diucapkan karena gambar telah berbicara lebih banyak.

Sebisa mungkin menghindari singkatan atau istilah teknis birokrasi, yuridis, dan militeristik yang tidak umum

Ini istilah apaan sih ya, ngeselin!
Ini istilah apaan sih ya, ngeselin!

Tidak semua pemirsa memahami istilah-istilah dari bidang tersebut. Jika memang tidak ada pengganti istilah yang ada, maka harus diperjelas dalam naskah, seperti JPU (jaksa penuntut umum), (SPJ) surat perinta jalan, dsb.

berlanjut ke 18 Prinsip Penulisan Naskah Televisi menurut Morissan (bag 3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here