Wanita Bermata Iblis
Wanita Bermata Iblis

“Mosok 1-2 saja nggak mau nak?” kini wanita tua itu mulai merajuk.

Doko yang mulai tak tahan akhirnya bertanya, “Berapa sih bu?”

“Cuma seribuan nak!” ucap wanita tua itu kini tampak lebih ceria.

“Ya sudah saya ambil dua!” ujar Doko agak sebal.

Wanita tua itu kini membuka kardusnya. Terlihat ada setidaknya 10 buah risoles mini yang ada di dalamnya.

“Duh nak! Sudah maghrib. Kasihan ibu. Dagangannya tinggal 10. Beli sekalian semuanya ya?” tawar wanita tua itu membuat Doko semakin kesal.

“Nggak bu! Saya hanya mau beli dua saja!” jawab Doko benar-benar kesal. Ia masih jengkel juga dengan ulah Robi yang seenaknya sendiri.

Wanita tua itu kini memasang raut sedih. Kini ia menatap mata Doko tajam. “Mas.. bzmbsbuas.. mbok ya.. salsjas.. beli saja… hsjahsislasl…” Doko memiringkan kepala. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa wanita tua ini berujar dengan sedikit-sedikit menjedakan gumaman aneh.

“Ayo mas.. sjhahsa lsalsa.. beli.. sjaksajs;akska;s..” lanjut wanita tua itu. Mendadak perasaan Doko merinding. Ia tak mengerti apa yang dilakukan wanita tua itu. Doko tahu ada yang tak beres, apalagi ketika wanita tua itu terus bergumam aneh.

“Baik bu! Saya beli semuanya!” ucap Doko langsung memotong gumaman aneh wanita tua tersebut. Segeralah Doko mengambil selembar sepuluh ribu rupiah dan mempersilahkan wanita tua itu keluar.

Ditutupnya segera pintu rumahnya. Dilihatnya wanita tua itu berjalan kaki ke luar halaman rumahnya. Tiba-tiba terdengar suara gemelotak dari dalam rumah. Baru saja Doko memalingkan wajahnya, wanita tua itu sudah hilang dari pandangan.

Doko mengambil kardus berisikan 10 risoles mini itu dan menaruhnya ke meja makan. Tak lama rupanya adiknya pulang kuliah.

“Mas, ini jajan dari mana?” tanya adiknya pada Doko setelah mencari-cari cemilan di meja makan.

“Aku yang beli. Makan saja. Aku nggak mau.” Jelas Doko singkat.

“Oke deh.. hmmm.. kok agak aneh ya rasanya?” ungkap adiknya. “Tapi laper.” Lanjut adiknya sambil melahap beberapa buah risoles lagi.

Tak lama kemudian, ibu Doko pulang kerja, juga langsung menatap kardus putih yang ada di meja makan.

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

one × 3 =