Blood Scary Horror White Mask Theatre Face

Mini Novel “Wajah yang Sama” merupakan kisah fiksi yang ditulis berdasarkan urban legend. Semoga anda menikmati kisah kali ini. Dan selamat menelusuri misteri dan horror yang ada di dalamnya!

—————————————————————————————————-

Aku ingat, dulu, waktu aku SMA ada temanku yang tertawa karena sebuah mitos.

“Kris! Coba deh baca ini! Mosok yang kayak gini beneran?” katanya sambil menunjuk sebuah laman website majalah remaja.

“Apaan sih kok heboh banget?” ujarku sambil menerima handphone yang ia sodorkan padaku.

via GIPHY

Aku bergumam sambil membacanya, “Kalau ada anak yang terlahir dengan wajah persis seperti ibunya, ibunya pasti tak akan hidup lama.”

“Lucu kan?!” teriak temanku memecahkan lamunan super singkat yang kulakukan.

“Apaan sih?! Lucu dari mananya? Ini serem tauk!” protesku keras.

“Halah.. kamu itu nggak bisa diajak bercanda!” balasnya.

“Selera humormu yang aneh! Bikin merinding aja!” aku masih tak sependapat dengannya.

Sepulang sekolah, aku melihat foto almarhumah ibuku. Banyak orang mengatakan.. kalau orang-orang melihatku, mereka seperti melihat ibuku. Persis. Seolah-olah ibuku hidup kembali. Mereka juga selalu berkata, coba saja ibuku masih hidup, pasti kalau sekarang foto bersama, banyak yang mengira kalau kami saudara kembar.

Kuambil pigura yang memajang potret ibuku yang tengah tersenyum. Ibuku memang tak berusia panjang. Pada usianya yang ke-30 ibuku meninggal karena kanker serviks. Itu saat aku berusia 7 tahun. Di usiaku yang sangat belia itu, banyak orang sudah merasa bahwa kami berdua benar-benar mirip.

Mungkinkah? Ibu meninggal karena aku benar-benar mirip dengannya?

Aku tetap menganggap hal itu sebagai mitos. Hingga di usiaku yang ke-29 ini, aku melihat anakku yang pulang sekolah.

via GIPHY

“Weni pulang, Mamaaa!” teriaknya sambil menenteng sepatunya yang mungil.

“Heii.. anak Mama sayang! Gimana sekolahnya?” sambutku sambil membereskan beberapa peralatan masak yang baru saja kucuci.

“Tadi Brian nakal, Ma! Ngejek Weni sampe Weni kesel!” amuknya sambil membanting tas sekolahnya.

“Heh! Kenapa sih tasnya harus dibanting segala? Kasihan Papa sudah beliin tas Weni malah Weni ngerusak tasnya. Nanti Papa sedih dong! Emang kenapa sih Brian?” ujarku berusaha mengorek apa yang membuat anakku ini kesal.

“Mosok tadi Brian ketawa, katanya aku sama Mama mirip banget. Terus manggil-manggil aku pakai nama Mama, ‘Eh Kristi kok jadi SD lagi? Mana Mamanya?’ gitu Ma. Kan kesel!” ceritanya sambil memonyongkan bibirnya.

Aku tercengang. Kenapa momennya bisa pas begini? Di saat aku teringat lagi akan mitos bodoh belasan tahun lalu, kini semua cerita anakku terdengar menyeramkan.

“Lho kenapa malah cemberut? Kan Weni malah seneng harusnya dibilang mirip sama Mama? Nanti kalau Weni besar, kan bisa foto bareng Mama biar dikira anak kembar? Hihihi!” ucapku menghiburnya. Weni ikut tertawa.

“Sudah sana ganti baju! Bau kecut! Terus makan sama mama.” Perintahku, dan Weni langsung berlari ke kamarnya.

Tinggalkan pesan

Masukkan komentarmu!
Masukkan nama di sini

20 − 17 =