Beranda Cerpen Mencoba Kos Baru di Bali dan Inilah yang Didapat Mahasiswa KKN Ini

Mencoba Kos Baru di Bali dan Inilah yang Didapat Mahasiswa KKN Ini

0
BERBAGI
Mencoba Kos Baru di Bali dan Inilah yang Didapat Mahasiswa KKN Ini
Mencoba Kos Baru di Bali dan Inilah yang Didapat Mahasiswa KKN Ini

Kisah ini berawal ketika aku harus kos untuk menjalani KKN. Aku kos bersama kedua temanku di sebuh rumah petak di salah satu daerah yang bertempat di Ubud, Bali. Hari-hari di minggu pertama aku awali dengan penuh kebahagian dan canda tawa di kos baru itu (sinetron banget yak).

Sampai suatu ketika salah seorang tetangga sebelah rumah petakku menceritakan suatu cerita yang membuatku kebelet pipis (merinding maksudnya). Sialnya dia hanya menceritakan di saat aku sendirian. Teman-temanku sedang bertugas (kali ini bukan cerita tentang perawat).

Dia menceritakan bahwa rumah petak tempat aku kos dulunya adalah bekas tempat pembunuhan (bukan penjagalan hewan).

Ada juga tetangga yang suka usil cerita aneh-aneh
Ada juga tetangga yang suka usil cerita aneh-aneh

 

“Mas, mas kok mau sih tinggal di situ”

“Murah soalnya, Pak. Buat bertiga lagi. Masing-masing Cuma keluar Rp 100.000 per bulan. Memang kenapa ,Pak?”

“Nggak ada apa- apa, gitu?”

“ Ada, Pak. Lumayan lah sudah ada tempat tidur dan kipas anginnya, Pak. jadi nggak perlu bingung nyari lagi.”

“La dalah. Maksud saya nggak ada kejadian aneh, gitu ?”

“Mmm..sebentar, Pak.. Saya mikir dulu…” (sambil mengambil posisi yoga)

“Laahh..”

“Nggak e, Pak.. Aman- aman saja tuh…”

“ Tau nggak, Dek….”

“Nggak, Pak.”

“Saya belum selesai ngomong, Dek..”

“Owalaahhh.. Hahaha.. Bapak nggak bilang dulu sih…” cengirku.

“ Diam dulu sampai Bapak selesai cerita“

“ Ok”

“Rumah itu dulunya tejadi pembunuhan besar-besaran. Itu dulu awalnya markas geng mafia. Digrebek polisi, terjadi baku tembak. Mati semua anggota mafia itu dan beberapa polisi.

Baca juga:

 

Beberapa tahun setelahnya jadi markas penculik. Yang diculik anak-anak dan wanita. Di sana mereka diperkosa lah, dijual lah, yang jelas korbannya nggak ada yang selamat. Ujung- ujungnya mereka mati karena ada salah seorang anggota nggak sengaja nglepas pengaman granat. Dikiranya itu tumbler starbucks limited edition. Berikutnya ditempati seorang laki-laki. Nggak tahunya punya kelainan. Suka memutilasi dan kanibal. Banyak banget tulang yang dikubur di dalam rumahnya.

Beberapa ada yang jadi makanan anjingnya. Selang beberapa bulan, ditempati keluarga yang sedang berlibur. Sepasang suami istri, 4 anak, kakek dan neneknya. Mereka malah mati dengan aneh. Si Kakek mati dengan kepala menghadap belakang dan mata melotot, sang suami mati di bathtub dengan posisi split, istrinya terplintir di dalam mesin cuci, anak pertama mati dengan posisi kayang yang bertumpu pada leher, anak kedua membeku dalam kulkas, anak ketiga nyangkut di kipas angin gantung dan anak keempat yang masih bayi mati di dalam kotak sepatu paling bau sedunia.

Ternyata yang melakukan pembunuhan itu semua neneknya, umur 70 tahun. Akhirnya ditangkap. Diinterogasi cuma ketawa-ketawa saja. Keesokan harinya tewas di sel dengan kepala terjepit di antara jeruji. Tapi wajahnya tersenyum lebar dengan mata melotot. Nggak masuk akal banget kan?”

Aku hanya diam.

“Dek? Kok diam saja? Ngeri banget ya, Dek? Shock?” tanya Bapak itu agak cemas.

“ Lah.. tadi kan Bapak suruh saya diam.”

“Owalah Le..leeee..”

“Kok Bapak tahu ceritanya itu? Bapak paranormal ya? Atau pejalan waktu?”

“Itu cerita udah terkenal di daerah ini. Dan kalian orang yang pertama kali menempati rumah itu sejak kejadian 5 tahun yang lalu.”

Baca juga:

 

Seketika aku merasa ada udara dingin yang menembus punggungku, merasuk ke tulang-tulangku, hingga sumsum. Sepertinya aku masuk angin. Bapak itu pun raut wajahnya menjadi pucat.

“Pak? Kenapa?”

“Mules, Dek.”

Bapak itu langsung pergi dengan agak ketakutan ketika sebelumnya melihat ke arah jendela rumahku. Saat aku menoleh, tidak ada apa- apa di sana. Aku pun ikut mules tapi tidak berani pulang ke rumah. Kuputuskan untuk pergi ke mall terdekat untuk menumpang toilet sambil menunggu teman-temanku pulang. Namun aku lupa, di dekat Ubud nggak ada mall. Mallnya jauh semua dari sini.

Aku pun mengabari teman-temanku untuk makan bersama di warung terdekat (akhirnya nggak jadi mules) sebelum pulang ke rumah agar kami pulang sama-sama ke rumah. Aku tidak berani sama sekali menceritakan pada mereka. Karena aku pernah mendengar mitos jika cerita hantu diceritakan maka hantunya akan muncul dan mengikuti si pencerita. Mungkin itu yang dialami Bapak tetangga sebelah sekarang. Tapi aku jadi parno. Mau ke dapur tunggu teman, mau ke toilet juga (?). Untungnya kami tidur sekamar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here