Beranda Cerpen Loophopeless, Sebuah Lingkaran Takdir Tak Terputus

Loophopeless, Sebuah Lingkaran Takdir Tak Terputus

0
BERBAGI
Loophopeless
Loophopeless

Percayakah kamu akan takdir?

Kutatap tubuhku yang telanjang bulat di depan cermin. Tubuh yang berkulit pucat. Mata yang sayu. Rambut yang kusam. Tak ada kebahagiaan yang dapat kuekspresikan dengan tubuhku ini.

2606

Kulihat tato bertuliskan 4 digit angka yang ada di lenganku ini. Masih bertanya-tanya, apakah makna angka-angka itu? Tanggal lahir kah? Tahun tertentu kah?

Tapi di atas itu semua, aku masih bertanya-tanya. Siapakah diriku. Mengapa aku di sini. Dan untuk apa aku berdiri di kamar gelap ini.

Kutatap langit-langit. Hanya terdapat rangkaian kabel besar yang seolah-olah akan menerkamku jika ia kehilngan kekuatannya untuk tetap tertaut di pinggir-pinggir dinding. Beberapa pengerat kulihat berlarian ke sana kemari. Satu di antaranya memiliki kudis yang begitu luas, sehingga nyaris tidak menyisakan rambut tubuhnya.

 

Baca juga:

 

Kulihat sekeliling kamar. Hanya terdapat satu tempat tidur usang. Tempat di mana aku terbangung tadi. Hanya cermin, tempat tidur, dan satu lagi.. Meja dengan selembar kertas catatan di atasnya. Sementara hawa dingin sudah mulai menyerang tubuhku yang telanjang ini, aku berjalan menuju meja. Menarik kain selimut yang terletak di atas tempat tidur. Membalut tubuhku dengan sehelai kain itu. Menyisakan hampir separuh tubuhku tetap tak terlindungi oleh kain itu.

Perlahan ku mendekati meja itu. Berusaha membaca dari kejauhan. Siapa tahu, tak perlu berjalan catatan itu sudah terbaca dari sini. Rupanya tidak juga. Aku tetap harus mengambil catatan dengan tulisan yang susah dibaca itu.

Kucoba untuk memahami tulisan itu.

 

Selamat ulang tahun!

Jangan buka pintu apapun yang terjadi.

 

Begitulah kubaca catatan tersebut. Siapa yang berulang tahun? Mengapa aku tidak boleh membuka pintu apapun yang terjadi? Mengapa ruangan ini harus begitu gelap dan menyeramkan?

Tidak ada jendela satu pun yang bisa kugunakan untuk mengintip apa yang ada di luar sana.

Naluriku sebagai manusia yang penasaran menggodaku untuk membuka satu-satunya pintu di sudut ruangan sekalipun tulisan itu sudah melarangku.

Cklick!

Pintu kubuka perlahan. Seberkas cahaya mulai masuk mengisi pupil mataku yang kini harus mulai menyesuaikan dengan intensitasnya yang semakin membesar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here