Merangkul Kematian
Merangkul Kematian

Merangkul kematian adalah sebuah puisi. Resapi dan maknailah puisi ini. Kematian seseorang yang amat kita cintai sangatlah berarti. Tak ada perpisahan yang tak menyedihkan, namun kita harus merelakannya.

—————————

Bagaimana rasanya?

Bagaimana kira-kira rasanya?

Bagaimana ya kalau seandainya dan seperti apa rasanya..

Membayangkan kematian itu seperti apa..

“Halo ma! Papa sekarang udah dapat posisi..!”

“Ma.. papa dapat sarapan ‘sego pincuk’ dari atasan.. doakan aja semoga papa masih bisa bertahan memperjuangkan apa yang terbaik.”

“Ma.. maaf kali ini papa pulang lebih pagi.”

Sms-sms itu terus kubaca. Rasanya begitu indah berjuang bersamamu. Apalagi ketika aku bisa meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Kita bisa hadapi semua selama berdua.

Bagaimana membayangkan kematian ya?

Mungkin.. itu saat di mana.. tidak ada lagi pesan-pesan yang kamu kirimkan untukku..

Mungkin itu saat di mana.. aku tidak lagi mendapat salam-salam hangat darimu sepulang kerja..

Mungkin itu saat di mana.. tak kurasakan lagi bidangnya dadamu dan kuatnya perlindunganmu untukku dan anak-anak..

Rizky Febian bisa jadi benar. Berpisah itu mudah. Hidup tanpamu aku mampu.

Namun menghapuskan semua apa yang pernah terjadi di antara kita, itulah yang sulit.

Suka-duka, susah-senang, kita hadapi semua itu. Lalu maut datang memisahkan kita.

Belasan tahun kamu pergi. Aku masih ingat semua yang kita lalui.

Tapi di saat tiba-tiba semua kenangan begitu menyentuh hati dan aku tahu itu tak akan lagi kulalui bersamamu, itulah saat di mana aku memahami kematian.

Kematian.. itu yang membuat semua yang ada padamu selama hidup begitu berharga.

Kematian.. itulah yang membuatku terus berjuang demi kehidupan yang kujaga.

Begitulah rasanya kematian..

Sampai tiba saatnya nanti.. semoga kita bersatu kembali..

Ah itu juga.. kematian.. itulah yang membuatku begitu merindukan keabadian..

Mari merangkul.. merangkul kematian..

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here