Home Inspirasi Ternyata Selama Ini Seharusnya Kita Sadar Kalau Kita Tidak Hanya Sekedar Bekerja

Ternyata Selama Ini Seharusnya Kita Sadar Kalau Kita Tidak Hanya Sekedar Bekerja

0
SHARE
Ternyata Selama Ini Seharusnya Kita Sadar Kalau Kita Tidak Hanya Sekedar Bekerja
Ternyata Selama Ini Seharusnya Kita Sadar Kalau Kita Tidak Hanya Sekedar Bekerja

Bahkan Lebih dari Sekedar Bekerja

Untuk apa kita bekerja?
Apa kita bekerja untuk makan?
Atau kita makan untuk bekerja?

Semua orang bekerja.
Menanggung lelah, menahan jengkel
memeras pikiran, mengucurkan keringat;
menghabiskan tenaga, membanting tulang dari pagi sampai sore.

Bayangkanlah paramedis di UGD yang seharian berdiri menunduk menjahit robekan tubuh korban yang mengerang kesakitan karena ususnya terurai. Atau seorang masinis kereta api yang pukul tiga pagi sudah menyalakan tungku batu bara lokomotif. Atau bahkan bayangkan pekerjaan seorang ibu rumah tangga, yang tak pernah ada habisnya.

Baca juga:

 

Untuk apa mereka bekerja?
Untuk apa kita bekerja?

Kita bekerja untuk mendapat nafkah. Sesempit itukah tujuan kerja?
Apa hidup ini hanya bertujuan untuk mencari nafkah?

Kita adalah makhluk yang lebih dari sekedar punya mulut dan perut saja. Kita memiliki martabat dan hati nurani. Martabat diri itu tidak akan terwujud dengan hanya ongkang kaki. Karena itulah kita bekerja. Dengan bekerja diri kita diaktualkan. Dengan bekerja diri kita jadi berarti dan memberi arti.

Punya arti dan memberi arti bisa dilakukan tiap orang, betapa pun kecil
pekerjaannya. Yang diperbuat seorang penjaga pintu lintasan kereta api bukan sekedar menjaga pintu kereta, tapi menjaga puluhan nyawa manusia. Yang diperbuat ibu bukan sekedar menyiapkan nasi, melainkan menyiapkan masa depan anak-anaknya.

Bermimpilah dan Raihlah Itu
Bermimpilah dan Raihlah Itu

Setiap orang perlu bekerja. Sebab itu, yang diberikan Tuhan kepada Adam pertama-tama adalah pekerjaan, bukan istri. Belajarlah dari semut, yang bekerja dengan rajin dan tekun, tidak banyak bicara dan tidak egois. Kerja adalah ibarat senar gitar. Terlalu kencang dia putus, terlalu kendor malah tidak bunyi.

Baca juga:

 

Kita bekerja karena Tuhan bekerja.
Tiap pagi Tuhan membangunkan surya.
Tiap petang Ia menidurkan senja.
Ia meniup awan.
Ia meneteskan hujan.
Ia menghidupkan indung telur.
Ia menghembuskan napas kehidupan ke jabang bayi.
Ia mengajar ikan berenang.
Ia mengawasi merpati yang terbang kian kemari.

Ketika kita bekerja, Tuhan berada di dekat kita.
Sekali-kali ia menoleh kepada kita.
Ia tahu bahwa kita letih.
Ia juga letih.
Ia pun mengangguk kagum melihat kita saat mengerjakan tugas dengan ketekunan.

“Apapun juga yang kamu perbuat,
perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan…”

Kita bekerja karena hidup ini mempunyai arti.
Kita bekerja supaya hidup ini memberi arti.
Hidup ini Cuma sekali.
Sekali berarti sesudah itu mati.

Pertanyaannya,
apakah hidup kita sekarang ini sudah memiliki arti dan memberi arti?

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here