Beranda Cerpen Tahukah Kamu Mengapa Beberapa Hotel Menyediakan Satu Kamar Kosong yang Tak Boleh...

Tahukah Kamu Mengapa Beberapa Hotel Menyediakan Satu Kamar Kosong yang Tak Boleh Dipesan? Bacalah Kisah Ini!

0
BERBAGI
Siapkan Satu Kamar Kosong di Hotel
Siapkan Satu Kamar Kosong di Hotel

“Kalau anda ingin membangun hotel yang sukses, siapkan satu kamar kosong di lantai ketiga, kamar nomor 9.” ujar seorang konsultan kepadaku. Pakaiannya begitu rapi. Tapi sarannya yang barusan malah membuat dirinya lebih terdengar seperti dukun, dibandingkan seorang konsultan pembangunan hotel.

“Kenapa saya harus melakukan itu? Bukannya apa-apa, tapi saya tidak begitu percaya dengan hal-hal mistis. Maaf saja.” jawabku menolak saran yang bagiku tidak relevan di zaman ini.

Konsultan yang bekerja sama denganku sangatlah bagus. Hasil dari analisis datanya dan pengajuan persyaratan yang aku titipkan padanya juga selalu tembus dengan cepat dan mudah.

Memang bayarannya lebih mahal dibanding konsultan lain. Di sisi lain, namanya juga sudah cukup terkenal. Tapi mendengar saran yang baru saja ia lontarkan, rasa hormatku padanya menjadi berkurang.

Baca juga:

 

Konsultan itu kini tersenyum. Terdengar sedikit suara yang bermakna merendahkan. Berhubung kerja sama kami sudah hampir sampai di titik akhir, maka aku lebih memilih untuk mengabaikan tindakan merendahkannya itu.

“Terserah Anda. Yang penting saya sudah menyarankannya. Jangan salahkan saya apabila terjadi hal-hal aneh nantinya di hotel Anda.” jawabnya, lalu mengemas dokumen-dokumen yang tengah ia tangani. “Saya pamit dulu. Kira-kira, 3 bulan dari sekarang, pembangunan hotel sudah bisa dilaksanakan.” kemudian ia menawarkan tangannya untuk menjabat tanganku. Setelah itu berdiri, membenarkan kemejanya yang kusut akibat diduduki.

Aku ikut berdiri. Tak berkata apapun. Kini rasanya setiap gerakan konsultanku tampak mencurigakan. Ia kemudian mendekatiku, lalu tetap membisikkan hal yang tak ingin kudengar, “Sebaiknya anda tetap melaksanakan saran saya. Saya sedikit memaksa.”
Ketika ia berbisik padaku, anehnya sekilas aku merasa ngeri. Tapi perasaan itu dalam sekejap menghilang juga, seiring menjauhnya ia dari ruanganku.

Tiga bulan berlalu, seperti prediksinya, pembangunan hotel sudah bisa dimulai. Dia memang profesional. Hanya saja, aku tetap merasa was-was dengan ‘peringatan’ yang ia sampaikan.

Mengapa aku harus menurutinya, sementara aku sendiri masih yakin dengan imanku.

“Bukan untuk itu.” Ujarnya tiba-tiba, sementara aku mengawasi para pekerja yang sedang membangun hotelku.

“Maksud Anda?” tanyaku keheranan. Tak ada angin, tak ada hujan. Tiba-tiba saja ia berucap demikian.

“Saya tahu apa yang sedang anda pikirkan. Tapi saran saya bukanlah untuk ‘itu’.” Ucapnya menegaskan sambil tersenyum.

“Yang jelas. Kamar di lantai 3 nomor 9 semestinya segera anda siapkan.” Jawabnya sambil berlalu, setelah menyelipkan beberapa map hasil evaluasi perizinan ke dalam lenganku.

Walau tidak ingin, tetap saja sarannya terus-menerus terpikirkan. Apa sebenarnya yang akan dan tak akan terjadi kalau seandainya aku menyediakan ataupun tidak kamar di lantai 3 nomor 9 itu? Tragedi kah? Hantu kah? Atau? Aku selalu memikirkan itu sebagai tempat ‘transit’ penunggu asli tanah yang aku beli. Lalu aku harus menguncinya rapat-rapat, dan setiap hari harus memberikan sesaji di kamar tersebut. Tapi jika yang ia katakan ‘bukanlah untuk itu’, lantas untuk apa? Mengapa ia tak terus terang saja padaku? Atau.. ia sengaja bungkam sampai aku membayarnya lebih?

“Saya harus membayar anda berapa lagi?” tanyaku di hadapannya. Aku berdiri tepat di depan meja kerjanya.

Ia tertawa kecil, “Mengapa anda tidak duduk terlebih dahulu?” ujarnya dengan tangan yang menunjuk kursi di depan mejanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here