Beranda Mini Novel Perempuan itu Tak Hanya Aneh, bagi Pria ini Perempuan itu ‘Lebih’ dari...

Perempuan itu Tak Hanya Aneh, bagi Pria ini Perempuan itu ‘Lebih’ dari Sekedar yang Ia Kira

0
BERBAGI
Perempuan itu Tak Hanya Aneh, bagi Pria ini Perempuan itu 'Lebih' dari Sekedar yang Ia Kira
Perempuan itu Tak Hanya Aneh, bagi Pria ini Perempuan itu 'Lebih' dari Sekedar yang Ia Kira

… (titik titik titik) – part 2

Aku berlari menghampiri perempuan itu. Memeriksa gerombolan itu. Aneh, apakah hanya perasaanku saja aku melihat wajah kesalnya tadi? Karena saat ini, sepertinya aku telah salah menafsirkan arti kata ‘kesal’ di wajah mereka. Mereka kali ini benar-benar kesal secara harafiah. Salah satu teman perjalanan mereka tiba-tiba sakit dan tak sanggup berjalan lagi.

Sebelumnya baca part 1 di: Bagaimana Perasaanmu Jika Bertemu dengan Seseorang yang Kamu Lupakan? Pria ini Mengalaminya …

“Kami sedang dalam perjalanan ke pesantren di Magelang. Tapi teman kami ini tiba-tiba sakit. Kami mencari tempat berstirahat terdekat.”

Tempat beristirahat terdekat? Di manakah itu? Perempuan itu, entah sejak kapan sudah beberapa langkah di depan kami. Tanpa berkata-kata ia mengisyaratkan untuk mengikuti jalan yang ia tunjukkan kepadaku.

Sambil membantu salah satu anggota gerombolan ini berjalan, aku tetap menatap perempuan itu. Perempuan yang membuatku tak dapat berkata-kata ataupun menyanggahnya. Perempuan yang mampu menggerakkan diriku untuk melakukan kehendaknya. Seolah-olah perempuan itu memiliki kuasa terhadapku. Kami berjalan menuju ke suatu tempat ibadah. Tempat ibadah orang-orang yang berbeda denganku.

Tampak dari kejauhan, orang-orang dari tempat ibadah itu sedang melakukan keiatan sosial. Langkahku sempat berhenti. Takut jika mereka akan menanamkan keberbedaan mereka kepadaku. Tapi, sesuatu yang lembut menarik tanganku. Tangan perempuan itu menarikku, memakasaku untuk tetap melangkah memberi pertolongan kepada gerombolan ini.

Baca juga:

 

“Selamat datang! Astaga! Temannya kenapa?” ujar seorang ibu dan langsung membantu kami untuk membawa seseorang yang sakit itu. Aku sempat sangsi dengan bantuan yang langsung ia berikan tanpa permisi itu. Tapi tatapan ketus dan gelengan kepala dari perempuan itu membuatku takut. Takut bahwa ia akan menghilang seperti pada mimpi. Lantas aku mempercayakan orang yang kubantu kepada mereka yang kaumnya berbeda denganku.

Aku melangkah masuk. Menuju teras rumah ibadah mereka. Kucari-cari sebuah alas. Untuk menjaga agar aku tetap ‘bersih’ dari segala keberbedaan ini. Kutemukan selembar koran. Lalu kuletakkan di teras. Sebelum aku memantapkan bokong pada lantai tempat aku akan duduk, sebuah tangan dengan cepat menarik koran alas itu. Dan berhasil membuatku duduk di situ tanpa perlindungan.

Tangan nakal yang mengambil alasku adalah tangan perempuan itu. Kesabaranku mencapai puncaknya. Wajahku memerah saking marahnya. Sebelum aku berteriak, suara lembut itu kemudian seperti menyiramku begitu saja.

“Mengapa?” tanyanya singkat dan menatap mataku dalam.

Aku terdiam. Mulutku terkunci rapat.

Perempuan itu kemudian menunjuk ke sebuah taman. Di taman itu terdapat rerumputan hijau, dihiasi oleh bunga dan bebatuan. Bunga-bunganya tampak serasi dengan berbagai warna.

“Seandainya di taman itu hanya ada rumput, Bisakah kamu melihat keindahannya?”

Aku belum paham maksud perempuan itu.

Baca juga:

 

Ia berdiri, menggandeng tanganku. Menuntunku lebih dekat kepada taman itu.

“Seandainya semua rumput ingin menjadi bunga, akankah kita mampu menikmati sejuknya warna rumput?” tanyanya padaku kedua kalinya. Pertanyaan yang serupa namun maknanya berbeda.

“Seandainya semua bunga meminta untuk menjadi mawar, akankah kamu merasakan semarak indahnya taman ini?” tanyanya padaku. Entah kenapa saat itu aku langsung kembali pada memori mimpi. Ketika ia berjalan menuju jurang. Ketika perempuan itu beranjak pergi meninggalkanku.

“Sudahkah kamu mengingatku?” tanyanya kepadaku.

Belum sempat aku menjawabnya, ibu-ibu yang melakukan aksi sosial dengan membagi-bagikan nasi bungkus kepada tukang becak setempat tampak panik.

“Nasi bungkusnya kurang!” ujar seorang ibu kepada yang lain.
“Waduuuuh.. gimana ini?” ujar ibu yang lain.
“Kurangnya berapa to bu?” tanya ibu yang lain.
“Kurang 3 sih. Warungnya juga masih jauh dari sini.” jawab ibu itu.

“Aku nggak lapar. Kasih saja semuanya ke mereka.” ujar perempuan itu padaku.

Aku bergegas mengambil nasi bungkusku itu. Lalu kuserahkan kepada ibu-ibu yang sedang kehabisan waktu itu.

“Bu.. ini saya ada sedikit rezeki untuk dibagikan.” ujarku sambil memberikan satu kantong plastik berisi 3 nasi bungkus itu.
“Waduh nak.. Nggak apa-apa nih?” tanya ibu itu sungkan padaku.
“Iya bu. Saya ikhlas.” ujarku dan tanpa sadar aku tersenyum.
“Terima kasih ya nak! Tuhan memberkati!” jawab ibu itu lalu membawakan nasi bungkus itu kepada 3 orang tukang becak yang sedang menanti.

Kulihat dari kejauhan wajah-wajah tukang becak itu, lalu kulihat wajah ibu-ibu yang begitu bahagia dan lega bisa membantu mereka. Perempuan itu melangkah ke sampingku, menatap pemandangan indah yang kulihat, lalu menatapku. Kemudian ia tersenyum juga menyusul senyumanku.

Kami melanjutkan perjalanan tanpa berbicara sepatah katapun. Hingga mendekati hunianku, aku memberanikan diri untuk bertanya,

“Kamu tinggal dimana?”
“Terus saja. Kita sudah hampir dekat.”
“Tapi setelah ini hunianku!”

Tapi dia mengabaikan pernyataanku dan justru menggandengku dan mengajakku berjalan lebih cepat sampai ke depan hunianku.

“Kita sudah sampai. Terima kasih sudah mau mengantarku.” ujar perempuan itu sambil tersenyum.

“Selama ini aku selalu bersamamu, bahkan lebih dekat dari yang kamu kira.”

Aku tercengang. Tiba-tiba teringat semua kenanganku selama perjalanan pulang tadi. Aku melakukan segala sesuatunya sendiri. Ketika aku membeli nasi bungkus, ketika aku menolong gerombolan itu, dan ketika aku membantu kegiatan sosial itu. Aku benar-benar sendiri.

“Kamu siapa?” tanyaku.

Perempuan itu tersenyum lalu memegang lembut kedua pipiku.

“Aku…”

. . .

 

Mini-Novel ini adalah sebuah tulisan refleksi. Pembaca dipersilahkan untuk mengintepretasikan sendiri, siapakah perempuan yang ditemui oleh pria itu. Dari sebab itu, mini-novel ini memiliki judul ‘…’ (titik-titik-titik), supaya pembaca dapat mengisi sendiri siapakah perempuan itu menurut pembaca.

Baca lagi kisah sebelumnya di: Bagaimana Perasaanmu Jika Bertemu dengan Seseorang yang Kamu Lupakan? Pria ini Mengalaminya …

 

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here