Home Cerpen Pentingnya Doa dari Sang Tuan Rumah untuk Rumahnya 

Pentingnya Doa dari Sang Tuan Rumah untuk Rumahnya 

0
SHARE
Pentingnya Doa dari Sang Tuan Rumah untuk Rumahnya 
Pentingnya Doa dari Sang Tuan Rumah untuk Rumahnya 

Sebelumnya dalam cerpen Rumah Baru Kami yang Berhantu

Di tengah upayaku supaya dapat terus berdoa, tiba-tiba aku mendengar suara bergelotakan dari kamar dekat dapur. Seperti meja yang digoyang-goyang dan dibenturkan namun tiada henti. Setelah itu disusul tawa anak kecil lagi. Aku memberanikan diri berjalan ke kamar sambil komat-kamit tidak jelas. Suara itu dari balik pintu terdengar semakin keras dan jelas. Aku semakin merinding. Namun, aku harus memastikan. Kubuka pintu kamar perlahan.

AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!

TUHANKU!

Suara tawa itu bagaikan suara tawa puluhan anak. Suara itu menghempasku sampai aku terjatuh. Lalu aku terdiam. Aku berdiri dengan lemas. Kulihat lagi kamar itu. Tidak ada apapun.

Tiba-tiba kudengar lagi suara gelotakan dari dapur. Aku sekarang takut setengah mati. Kali ini suara itu benar-benar terasa nyata. Terlihat bayangan dari arah dapur melangkah ke arahku. Aku semakin merinding. Sosok itu melangkah mendekatiku.

Astaga!
Astaga!

“Yuk pulang.” Kata suamiku.

“Astaga! Ternyata kamu mas..” jawabku setengah menahan napas.

“Ha? Kenapa emangnya? Ayo pulang.” Ajak suamiku. Selama berlibur kami tinggal di rumah mertuaku.

Aku terdiam. Lau dengan sedikit marah aku berkata, “Nggak! Kita harus diam di sini dulu sebentar!”

“Lho kenapa?” suamiku heran.

“YANG PUNYA RUMAH HARUS BERDOA DI SINI DULU..” jawabku dengan memaksa.

Melihat raut wajahku yang ketakutan sepertinya suamiku memahami mengapa aku memaksanya berdoa. Kami berdua berdoa. Awalnya masih sulit mengucapkan doa. Sampai akhirnya, upaya yang ketujuh kali, aku berhasil merasa tenang dan bisa berdoa dengan lancar. Sesuai dengan nasehat ayahku, ketika kamu berada di rumah, jangan lupa untuk selalu mendoakan arwah leluhur dan arwah yang mungkin belum tenang di lingkungan sekitar kamu. Maka kami berdoa untuk itu semua. Memohon agar jiwa yang belum tenang diampuni dosanya dan tidak lagi mengganggu kami.

Seusai berdoa, kami bersiap untuk kembali ke rumah mertua. Satu per satu lampu kami matikan. Ketika kami melintasi ruang tamu, aku melihat ada yang mengganjal di sudut ruangan. Sebuah kotak kecil. Aku tidak tahu sejak kapan kotak itu ada di situ. Kubuka kotak itu. Kulihat di dalamnya. Sebuah mobil-mobilan mungil terletak di dalamnya.

 

Sayup-sayup kudengar lagi suara tawa anak itu.

baca kisah awalnya di Kejanggalan yang Terjadi di Rumah Kami Awalnya Tampak Seperti Ulah Manusia Biasa, Namun Lama Kelamaan…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here