Home Cerpen Misi yang Membutuhkan Semangat Kehidupan untuk Menyelamatkan Dunia

Misi yang Membutuhkan Semangat Kehidupan untuk Menyelamatkan Dunia

0
SHARE
Misi yang Membutuhkan Semangat Kehidupan untuk Menyelamatkan Dunia
Misi yang Membutuhkan Semangat Kehidupan untuk Menyelamatkan Dunia

Aku memiliki misi…?

Sebelumnya di Cerpen Dunia Perbatasan, Sebuah Dunia yang Membingungkan

“Misi?” Indra mencoba mengingat-ingat. “Jadi yang dulu dalam mimpi itu sungguhan?”

“Iya. Gabriel sudah mencoba memberitahumu. Tapi kamu terlalu bo.. maksudnya kamu terlalu rasional jadi menganggap itu hanya mimpi. Gabriel juga nggak mau repot kayaknya.” ujar Rafael setengah jengkel.

“Kata orang terlalu percaya sama mimpi itu nggak baik. Lagian bagaimana caranya orang kayak saya bisa terpilih melakukan misi dari surga? Zaman sekarang kalau saya koar-koar dapat misi dari surga malah dipolisikan.” jawab Indra polos.

“Beginilah people zaman now. Aneh semua.” kata Rafael sambil menghela napas.

“Tuan Rafael juga pakai LYNE? Kok tahu bahasa gituan?” tanya Indra antusias.

“Dasar bo.. Ya nggak lah.. Di sini semua bisa diungkapkan hanya dengan batin. Maaf salah fokus.. Intinya, misimu adalah mencegah perang dunia ketiga.” jawab Rafael sambil memegang dahinya.

“Hmm..” Indra mengangguk-angguk. “APAA??” Indra berteriak terkeut, seolah-olah matanya mau lepas.

“Sebentar. Perang dunia ketiga? Saya yang mencegahnya? Bukannya itu urusan PBB ya? Saya aja nilai TOEFL-nya hanya 170.” jawab Indra panik.

“Kadang aku masih heran bagaimana caranya dewan surga memilih orang.” jawab Rafael kesal. “Indra, Tuhan memilihmu. Itu saja. Alasannya apa, aku nggak tahu.” jawab Rafael sambil memegang erat bahu Indra.

“Tapi,, untuk hidup lagi, kamu harus punya alasan yang kuat mengapa kamu ingin hidup.” terus Rafael.

Kali ini keduanya dalam situasi yang benar-benar canggung. Indra menatap mata Rafael. Berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya. Setelah itu ia menghela napas.

“Mungkin aku bisa mengajakmu melihat-lihat alasanmu hidup..” tawar Rafael.

Rafael lalu memejamkan matanya dan mengatupkan kedua tangannya. Setelah itu dimensi yang semulanya didominasi oleh warna biru gelap terdistorsi. Kini mereka berada di sebuah ruangan. Ruangan itu didominasi oleh warna putih. Mejanya tertata rapi. Terdapat tempat tidur besi khas milik sebuah tempat. Ya, itu di kamar di salah satu rumah sakit. Di tempat tidur itu terbaring seseorang.

Indra melihat tubuhnya sendiri tergeletak tak berdaya
Indra melihat tubuhnya sendiri tergeletak tak berdaya

“Siapa itu?” tanya Indra.

“Itu kamu. Orang yang berada dalam masa krisis antara hidup dan mati biasanya akan sulit untuk mengenali tubuhnya sendiri.” jawab Rafael.

Tubuh Indra tergeletak setengah kaku. Luka dan lebam yang dideritanya cukup banyak. Lehernya sudah dibalut oleh penyangga. Alat pendeteksi detak jantungnya menampakkan denyut yang begitu lemah. Di sebelah tubuhnya tampak sesosok yang dengan setia menanti. Sosok perempuan yang menampakkan wajah yang begitu khawatir. Rambutnya yang keriting diikatnya ke belakang, menandakan kesiagaannya untuk menyambut orang berharganya yang tergeletak. Tangannya saling menggenggam erat. Perempuan itu tampak takut menggenggam tangan Indra walaupun ingin. Ia takut menyakiti tubuh Indra yang sudah terlanjur menerima banyak cedera.

“Itu ibumu.” kata Rafael.

“Saya tahu. Tapi.. ibuku bukanlah seseorang yang membuatku berkeinginan hidup.” jawab Indra.

“Mengapa? Ibumu begitu mengkhawatirkanmu. Ia begitu mencintaimu. Bukannya kamu ingin membahagiakannya?” tanya Rafael keheranan.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Sesosok pria yang tampak sama khawatirnya mucul.

Bersambung ke Apa Sebenarnya Alasan yang Paling Membuatku Ingin Hidup?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here