Home Cerpen Kawan-Kawan yang Dinantikan Eri

Kawan-Kawan yang Dinantikan Eri

0
SHARE
Kawan-Kawan yang Dinantikan Eri
Kawan-Kawan yang Dinantikan Eri

Sebelumnya dalam cerpen Eri, Layangan, dan Penjual Kerupuk

Akhirnya ketiganya siap menerbangkan layangannya masing-masing. Dodit menolak tawaran Benny maupun Bagus. Ia memilih menerbangkan layangannya sendiri. Layangan bergambar naga dengan corak yang sangat kentara. Naga berwarna merah dengan tanduk bercabang dan wajah yang garang. Roni dengan layangannya yang ala kadarnya, namun selalu paling gesit untuk menghindari serangan musuh. Ia dibantu oleh Bagus, sementara Benny membantu Susi menerbangkan layangannya. Layangan paling imut di kampung.

Terbanglah ketiga layangan itu. Meliuk-liuk di udara. Dodit secara agresif berusaha memutuskan layangan Roni. Namun terhalang oleh layangan Susi yang terhempas angin kencang secara tiba-tiba. Kedua layangan itu nyaris bertabrakan dan hancur rusak di langit, tapi Dodit dengan gesit mengendalikan manuver layangannya. Susi selalu bermain aman. Ia tidak pernah mau merusak layangan imutnya. Tapi selalu saja gagal karena biasanya Eri dengan tega memutus layangan Susi. Sementara itu Roni terus mengulur talinya agar layangannya menjadi yang tertinggi di antara semuanya.

Di tengah asyiknya mereka berebut posisi tertinggi dan menghancurkan lawan. Tiba-tiba Susi menjerit. Jeritannya sangat mengejutkan karena begitu keras dan memekakkan telinga. Susi terkejut bukan main ketika layangan yang dijaganya tiba-tiba diputuskan begitu saja. Namun jeritannya menjadi tanda tanya karena tidak ada satupun layangan berwarna merah dan hitam berekor yang begitu besar sebelumnya.

Layang-layangpun dikendalikannya dengan gesit
Layang-layangpun dikendalikannya dengan gesit

Layangan merah-hitam itu kemudian dengan ganas menabrak layangan Dodit. Dodit berteriak kesal karena naga kebanggaannya hancur berantakan dan layangan itu terbawa angin. Seolah-olah belum puas, layangan merah-hitam itu melesat ke atas, membelit bolah layangan Roni dan kemudian.. Tsss! Putuslah layangan Roni. Namun kekesalan mereka disusul dengan keheranan. Dari mana layangan itu berasal. Mereka mengamat-amati layangan itu dan berusaha melihat ke arah mana pangkalnya. Bolah itu menuju ke arah halaman kecil di balik rumah Eri. Penasaran, kelima bocah itu menelusuri dari mana datangnya layangan itu.

Mereka berlari dan kemudian mendapati seorang kakek tua. Kurus. Dengan keriput yang tampak begitu jelas di wajahnya. Tampak dengan santai menarik-ulur layangan merah-hitam itu. Di sebelahnya tergeletak dua gentong kerupuk. Melihat anak-anak itu datang, si kakek penjual kerupuk tersenyum.

“Ke sini nak! Kakek ajari cara menerbangkan layangan dengan benar supaya kalian menang terus!” ajak kakek itu.

Yang tersisa dari sore itu hanyalah ketiga layangan yang menyangkut di dahan pohon nangka. Layangan polos, layangan naga sobek, dan layangan berawarna pink-ungu. Tidak lama kemudian, layangan berwarna merah-hitam menyusul ketiga layangan itu. Seolah-olah dinanti, akhirnya keempat layangan itu terus tersangkut di dahan pohon nangka. Dalam diam. Dalam sunyi. Dan dalam tangis orangtua mereka.

Hingga akhirnya.. waktu benar-benar melenyapkan keempat layangan itu…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here