Home Edukasi Ini yang Akan kamu Dapatkan, (Hanya) Jika Kamu Ulet Bekerja

Ini yang Akan kamu Dapatkan, (Hanya) Jika Kamu Ulet Bekerja

0
SHARE
Ini yang Akan kamu Dapatkan, (Hanya) Jika Kamu Ulet Bekerja
Ini yang Akan kamu Dapatkan, (Hanya) Jika Kamu Ulet Bekerja

Jack Ma, lahir di daerah Hangzhou, Zheijang, China pada 10 September 1964. Pada tahun 1999, ia mendirikan perusahaan internet yang kita kenal dengan nama Alibaba.com. Saat ini, Alibaba Group menjadi perusahaan e-commerce terbesar di China. Perusahaan ini juga terkenal karena mampu mendepak perusahaan eBay dari China. Jack Ma menjadi orang daratan China pertama yang muncul di majalah Forbes dan termasuk dalam daftar orang paling berpengaruh di dunia pada urutan ke-22.

Wiliam Tanuwijaya, lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, pada 18 November 1981. Pada tahun 2007, bersama temannya, Leontinus Alpha Edison, ia merintis konsep toko online bernama Tokopedia. Saat ini, Tokopedia merupakan perusahaan teknologi pertama di Asia Tenggara yang menerima suntikan dana sebesar USD 100.000.000 atau setara dengan IDR 1.3 T dari Sequoia Capital dan SoftBank Internet and Media Inc (SIMI). Tokopedia juga mendpatkan penghargaan Marketeers of The Years untuk sektor e-commerce pada acara Markplus Conference 2015 yang digelar oleh Markplus Inc tanggal 11 Desember 2014.

Lantas, apa persamaan dari kedua tokoh ini? Bisa jadi, anda melihat kesuksesannya sebagai persamaan dari kedua tokoh ini. Tapi, mari kita lihat lebih jauh ke belakang lagi!

Jack Ma adalah Salah Satu Entrepreneur yang Menginspirasi Banyak Kaum Muda
Jack Ma adalah Salah Satu Entrepreneur yang Menginspirasi Banyak Kaum Muda

Jack Ma, lahir dalam keluarga yang tergolong berekonomi lemah. Orangtuanya adalah pemusik dan pendongeng tradisional, dan setiap bulannya keluarganya hanya bisa bergantung pada tunjangan pensiun sang Ayah yang hanya sebesar Rp 500.000. Jack Ma yang sejak usia 12 tahun tertarik dengan Bahasa Inggris, mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Ia mengasah kemampuannya dengan menjadi pemandu wisata di sebuah hotel dekat danau Hangzhou. Setelah lulus perguruan tinggi, Jack Ma menjadi guru bahasa Inggris SMA dengan gaji 100-120 renmibi atau setara dengan Rp 114.000-142.500 per bulan. Pada tahun 1994 Jack Ma mengenal internet. Pada tahun 1995, ia meminta bantuan temannya untuk memperkenalkannya pada internet. Dan kata pertama yang ia cari adalah “beer”. Saat itu ia tidak menemukan beer dari China, dan akhirnya menyadari bahwa tidak ada informasi apapun yang berasal dari China. Masih di tahun yang sama pada bulan April, Jack Ma menginvestasikan USD 20.000 untuk memulai perusahaan internet bernama “China Yellow Pages”. Pada 1999 ia memutuskan untuk berhenti mengelola China Yellow Pages dan mendirikan Alibaba.

Wiliam Tanuwijaya, lahir dalam keluarga yang tidak memlilki pengalaman berbisnis. Selama masa perantauannya di Jakarta, ketika Wiliam kuliah, sejak semester 2 ia bekerja sebagai penjaga warnet. Wiliam melihat sambilannya di warnet sebagai blessing in disguise, karena pada masa itu internet masih mahal, dan Wiliam justru bisa menikmatinya sambil dibayar. Setelah ia lulus dari Universitas Bina Nusantara, Wiliam menjadi karyawan di perusahaan pengembang software. Pada tahun 2007, Wiliam aktif sebagai moderator “kafegaul” dan di situ ia menemui banyaknya keluhan dari pengguna karena ada penipuan pada transaksi jual-beli online. Menyadari keprihatinan saat itu, Wiliam mulai memikirkan bagaimana caranya, semua penjual-pembeli di Indonesia dapat saling bertransaksi tanpa takut tertipu. Wiliam lalu menceritakan ide ini kepada satu-satunya “orang berduit” yang ia kenal, yaitu bosnya sendiri. Bosnya dengan baik hati memperkenalkannya kepada beberapa temannya yang merupakan investor.

Apa yang terjadi? Ide ini dianggap berlebihan oleh sebagian besar investor.

Rata-rata yang ditanyakan investor justru semua tentang latar belakang Wiliam. Dari keluarga macam apa Wiliam, lulusan mana, dan pernah berbisnis apa, hingga akhirnya hampir selalu berujung pada penolakan. Menghadapi kenyataan bahwa ayah Wiliam terkena kanker menjadikan Wiliam sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga. Maka Wiliam selama 2 tahun terus berjuang untuk mendapatkan kepercayaan dari para investor. Pada tahun 2009, usaha WIliam dan rekannya membuahkan hasil. Bermula dari investasi bos Wiliam sendiri sebesar 10%, investor lain mulai terus berdatangan dan menaruh kepercayaan pada Tokopedia. Bermula dari 4 orang, hingga akhirnya Tokopedia memiliki sekitar 300 Nakama saat ini. Bermula dari 500-an merchants yang mempercayai tokopedia di awal berdirinya, hingga akhirnya menjadi ratusan ribu saat ini.

Kembali ke masa kini. Jika masyarakat Tiongkok diberi pertanyaan, “Apa kamu tahu Alibaba Group?”, jelas mereka akan menjawab “Iya”.

Jika masyarakat Indonesia diberi pertanyaan, “Apa kamu tahu Tokopedia?”, saya yakin sudah sebagian besar masyarakat Indonesia akan menjawab “Iya”.

Kedua perusahaan ini memiliki satu persamaan yang besar, yaitu dibangun dengan keberanian besar dan perjuangan keras. Bukan hanya karena investornya berasal dari perusahaan yang sama.

Seandainya saja, Jack Ma dan Wiliam Tanuwijaya bukanlah orang yang ulet, tentu tidak akan pernah ada Alibaba Group dan Tokopedia.

Seandainya saja Wiliam Tanuwijaya tidak tergerak oleh keprihatinan akan penipuan online yang marak terjadi, tentu ia tidak akan memiliki konsep mengenai Tokopedia.

Tokopedia merupakan perusahan digital Indonesia yang mampu memperkuat ekonomi bangsa dengan signifikan
Tokopedia merupakan perusahan digital Indonesia yang mampu memperkuat ekonomi bangsa dengan signifikan

Seandainya saja Wiliam Tanuwijaya menyerah karena penolakan investor, bisa jadi konsep Tokopedia akan pindah ke tangan orang lain. Atau bisa juga, Indonesia akan terjebak pada konsep bahwa internet hanya menjadi sarana kriminalitas gaya baru.

Seandainya saja, Wiliam Tanuwijaya tidak bertemu Leontinus Alpha Edison, bisa jadi Wiliam kehilangan semangat juangnya.

Seandainya saja, Wiliam Tanuwijaya tidak mengagumi Jack Ma sebagai contoh yang baik dalam membangun perusahaan internet, tentu saya tidak akan membandingkannya dengan Jack Ma.

Seandainya saja, Wiliam Tanuwijaya tidak bekerja di warnet, tidak mengenal “kafegaul”, tidak bekerja di perusahaan pengembang software, dan ayahnya sehat-sehat saja, tentu tidak akan ada cerita semenarik ini. Dan tentu saja, saya tidak akan bisa menulis artikel ini.

Ketika orang ulet bekerja, hanya masa depan yang lebih baik yang terlihat di matanya.

Ketika orang ulet bekerja, hanya optimisme yang muncul ketika penolakan ditemui dimana-mana.

Ketika orang ulet bekerja, hanya ketekunan yang dikmiliki ketika fasilitas masih terbatas.

Ketika orang ulet bekerja, hanya kerja kerja kerja yang dilakukan agar mampu memberikan hanya yang terbaik bagi orang lain.

Ketika orang ulet bekerja, masalah menjadi layaknya batu lompatan.

Ketika orang ulet bekerja, cibiran dan cecaran, bahkan persaingan dari orang lain tidak menjadi masalah, malah menjadi dukungan untuk berkembang menjadi lebih baik.

Ketika orang ulet bekerja, hanya peluang yang dilihat ketika keterdesakan muncul.

Dimulai dari menciptakan peluang bagi diri sendiri, hingga menciptakan peluang bagi orang banyak.

#ciptakanpeluangmu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here