Home Edukasi Ini Pentingnya Sadar Literasi bagi Digital Natives

Ini Pentingnya Sadar Literasi bagi Digital Natives

0
SHARE
Ini Pentingnya Sadar Literasi bagi Digital Natives
Ini Pentingnya Sadar Literasi bagi Digital Natives

Tanggal 10 Juni lalu ditetapkan sebagai hari media sosial sedunia. Hal ini menandakan bahwa media sosial menjadi bagian kehidupan yang tidak lagi dapat dipisahkan dari manusia. Hari media sosial hadir dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk semakin cerdas dalam memanfaatkan media sosial, terutama dalam etika penyebaran informasi. Tentu saja, penggunaan media sosial tidak dapat dipisahkan dari gawai yang berupa ponsel pintar.

Penggunaan gawai mempermudah pekerjaan masyarakat. Sejak adanya konvergensi teknologi, segala sesuatu kini dapat dilakukan hanya melalui satu genggaman, satu sentuhan, di mana saja, dan kapan saja. Secara psikologis, situasi ini membuat nyaman para penggunanya sehingga saat ini tidak mudah memisahkan antara gawai dengan penggunanya, terutama kaum muda.

Menurut Marc Prensky, masyarakat zaman sekarang terbagi menjadi dua golongan, yaitu digital natives dan digital immigrants. Digital natives adalah mereka yang sejak lahir ‘terpapar’ teknologi digital, sementara digital immigrants adalah mereka yang hidup sebelum merasakan teknologi digital kemudian mengalami perubahan ke era digital. Keduanya memiliki karakter yang berbeda, di mana digital natives lekat dengan gawainya untuk menunjang kehidupan, sementara digital immigrants dapat menjalani kehidupannya sehari-hari tanpa harus bergantung pada gawai. Kaum muda masa kini tergolong pada digital natives.

Menurut Edwi Arief Sosiawan, dosen psikologi komunikasi beberapa kampus di DIY, keberadaan gawai selalu menimbulkan konsekuensi, dampak positif, maupun negatif bagi interaksi sosial, pola hidup, dan pemaknaan nilai-nilai norma dan budaya yang berlaku dalam masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa dampak negatif dapat mempengaruhi setiap pengguna gawai. Namun dampak negatif akan menjadi lebih buruk apabila hidup antara dunia maya dengan dunia nyata tidak seimbang. Ditambah lagi kurangnya pemahaman mengenai konsekuensi dan dampak penggunaan gawai.

Menurut Edwi, literasi menjadi kunci agar generasi muda masa kini mampu memanfaatkan gawai secara positif, “Kuncinya literasi. Digital natives tidak mungkin tiba-tiba tahu mengenai dampak (penggunaan gawai) itu jelas tidak mungkin. Karena yang namanya literasi itu butuh sosialisasi. Lembaga-lembaga sosial berperan penting untuk itu. BIsa dari sekolah, atau kelompok-kelompok masyarakat tertentu, atau sebenanya supplier dari gawai itu sendiri.” Jelasnya. Keterlibatan semua pihak dalam upaya literasi, terutama digital immigrants (orang tua), kelompok yang melek teknologi, hingga pemerintah berpengaruh dalam menentukan gaya digital natives dalam menggunakan gawai.

Produktif dengan Gawai

Penggunaan gawai dalam aktivitas sehari-hari tidak melulu berdampak negatif. Ada banyak keunggulan gawai yang dapat dimanfaatkan untuk menjadi pribadi yang lebih unggul di masa kini. Tidak hanya sebagai media pengungkapan eksistensi diri, pengguna dapat memanfaatkan gawai untuk menginspirasi orang lain hingga mmbuat penghasilan sendiri. Sebagai contoh, Ade Kurnianingrum, seorang content writer di salah satu radio swasta di Yogyakarta. Sebagai pemudi yang profesinya sangat dekat dengan gawai dan media sosial, ia merasakan banyak manfaat yang berdampak positif bagi kehidupannya. Dara yang akrab disapa Nia ini, memanfaatkan Instagram sebagai salah satu publikasi resensi kosmetik, lifestyle, dan fashion yang ia gunakan. “Pertama itu karena suka, Suka difoto dan suka beli baju. Cewek ya.. ” Ungkapnya sambil tertawa. Selain itu, ia juga menggunakan Instagram untuk mempromosikan dan jual-beli produk buatan tangannya sendiri.

Ade Kurnianingrum memilih untuk menggunakan gawai secara produktif
Ade Kurnianingrum memilih untuk menggunakan gawai secara produktif

Sedikit berbeda dengan Nia, Gunawan Wicaksono, pemuda kelahiran Bantul memanfaatkan media sosial sebagai ajang promosi tempat wisata yang unik dan jarang ditemui di Yogya. Mengawali karier sebagai pembuat musik, ia kini menjadi freelance dalam bidang fotografi dan video editing. Gunawan mengaku ia belajar fotografi dan editing justru dari Youtube bukan pendidikan formal. Ia juga mengaku, ia justru mendapatkan penghidupan dari intagram. “Fotonya dishare bagus-bagus. Nanti mesti banyak orang lihat galeri kita. Nah langsung banyak yang tanya, tentang editing video atau tour guide. Nah kayak gitu bisa dimanfaatkan untuk freelance.”

Gunawan lebih sering menggunakan gawainya untuk mengabadikan momen-momen indah
Gunawan lebih sering menggunakan gawainya untuk mengabadikan momen-momen indah

Nia dan Gunawan memiliki pendapat yang sama bahwa di era digital ini penggunaan gawai itu tergantung pada penggunyanya. Apakah kemudian berdampak positif atau negatif bergantung pada kemauan belajar penggunanya untuk menerapkan ilmu yang ia dapat untuk produktif atau menginspirasi orang lain. Menurut mereka, cara paling mudah adalah melakukan apa yang ia suka dengan gawainya dan menjadi diri sendiri.

tulisan ini juga dimuat dengan versi yang telah disunting dalam Swara Kampus Kedaulatan Rakyat Edisi 328-Selasa Wage 13 Juni 2017
tulisan ini juga dimuat dengan versi yang telah disunting dalam Swara Kampus Kedaulatan Rakyat Edisi 328-Selasa Wage 13 Juni 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here