Home Cerpen Dunia Masih Harus Menunjukkan Kebaikannya pada Orang yang Menyesal dan Bertobat

Dunia Masih Harus Menunjukkan Kebaikannya pada Orang yang Menyesal dan Bertobat

0
SHARE
Dunia Masih Harus Menunjukkan Kebaikannya pada Orang yang Menyesal dan Bertobat
Dunia Masih Harus Menunjukkan Kebaikannya pada Orang yang Menyesal dan Bertobat

Aku dan Ayah

Sebelumnya di Cerpen Indra Tak Lagi Ingin Hidup, Berhasilkah Surga Menyelamatkan Dunia?

Tanpa sadar ia sudah berada tepat di depan nisan ayahnya.

“Halo Indra.” suara berat seorang pria terdengar begitu jelas. Menyapa dengan kehangatannya yang khas. Kehangatan seorang ayah yang dirindukan Indra selama ini.

“P-p-p.. Papa?” jawab Indra terbata-bata.

“Kamu baik-baik saja kan? Papa selalu meminta dewan surga supaya membuatmu bahagia.” jawab ayah Indra sambil tersenyum.

Seandainya Indra dapat menangis, saat itu juga ia akan menangis tersedu-sedu. Betapa bahagianya dirinya bertemu kembali dengan ayahnya.

Melihat reaksi anaknya, ayah Indra berkata, “Pasti berat ya menerima semua kenyataan ini? Tapi itu hanya masalah kecil kok.”

“Kamu.. dipinjami kekuatan Rafael?” tanya ayahnya ketika melihat tangan Indra yang memendarkan cahaya kebiruan.

Indra mengangguk.

“Baiklah. Papa akan mengajakmu ke suatu tempat.” lalu ayahnya menggenggam tangan Indra dan mereka berpindah ke tempat lain.

Mereka kini berada di sebuah rumah kecil. Rumah yang tampaknya tak begitu terawat. Mereka masuk ke dalam. Tampak di sudut ruangan mana pun, tak ada satupun perabotan. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Semakin mereka mendekati sebuah kamar, terdengar isak tangis seorang pria.

“Maafkan aku.. maafkan aku.. Kumohon jangan mati.” ujar pria itu berulang kali sambil terisak.

Pria itu terduduk di sudut ruangan. Menangis tersedu-sedu. Tampak beberapa luka gores di tubuhnya, tapi tidak serius.

“Pria itu adalah orang yang menabrakmu di malam hari. Itu pun sebenarnya di luar kendalinya.” jelas ayah Indra.

Pria yang menabraknya tampak begitu menyesal
Pria yang menabraknya tampak begitu menyesal

Indra menatapnya.

“Istri dan anak-anakku meninggalkanku. Mereka menuduhku berselingkuh. Tapi ternyata justru istrikulah yang berselingkuh dengan laki-laki lain. Semua perabotan yang kami kumpulkan bersama diambilnya. Rumah ini disapu bersih bahkan sampai satu sendok pun tak ada. Sepucuk surat perpisahan dari mereka tidak ada sama sekali. Aku dianggap sampah oleh mereka.” pria itu terus meracau.

“Apa dia tahu kalau kita di sini?” tanya Indra.

“Tidak. Ia hanya ingin mengungkapkan rasa penyesalannya yang terdalam.” jawab ayahnya.

“Malam itu aku begitu putus asa. Aku minum-minum sepuasku. Lalu menyetir, berharap aku akan mati kecelakaan. Tapi aku justru menabrak orang tak bersalah. Ia saat ini kritis dan sementara aku di sini sendiri. Hanya dengan luka gores yang sedikit.”

“Mengapa aku harus mencelakai orang lain demi keegoisanku….” lalu pria itu kembali terisak.

“Masih banyak orang yang memiliki masalah yang lebih tragis dari ini. Bumi ini, di zaman ini, seharusnya jauh lebih berbaik hati kepada manusia-manusia yang semacam ini. Bumi ini tidak layak hancur karena keegoisan beberapa orang. Bumi ini adalah satu-satunya tempat, satu-satunya rumah bagi manusia. Bukankah jauh lebih baik, apabila kita membuat bumi menjadi rumah yang nyaman bagi orang-orang ini?” tanya ayah Indra sambil tersenyum.

“Mari kita kembali.” ajak ayah Indra lalu mereka pergi ke tempat Indra semula.

Bersambung ke Surga yang Tampak di Bumi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here